Komit

Posted on July 3, 2010

2


by Patrisius

Dalam penilaian 12 Karakter Ma Chung, ada kriteria ini: “membuat orang lain terinspirasi untuk komit” (dari kata committed, yang artinya ‘bertekad, berkomitmen’).

Saya selalu berhenti agak lama di bagian ini, baik ketika menilai kolega-kolega saya sesama Ma Chunger, atau mentee-mentee saya. Saya kemudian mengingat-ingat tindakan mereka yang menginspirasi orang lain, khususnya saya, untuk komit.

Dalam seleksi Direktorat of the Year dan Prodi of the Year dan Pimpinan of the Year minggu lalu, seleksinya marathon. Empat hari penuh mulai jam 8 sampai 4 sore. Dewan Jurinya dipaksa (tepatnya, saya paksa, soalnya yang membuat sistem seleksinya adalah Direktorat saya) untuk memelototi sekian ratus butir dan presentasi setiap direktorat dan pimpinannya selama berjam-jam. Tapi kegigihan mereka untuk bertahan di kursi panas itulah yang membuat saya terinspirasi. Mereka komit. Duduk menjuri selama berjam-jam, cermat mendengarkan walau badan dan otak mungkin sudah low batt.

Salah seorang mentee saya, namanya Ade Febriany, juga menginspirasi saya untuk komit. Dalam Baksos semester lalu, dia lah yang menjadi pemimpin virtual kelompok Curcuminoid: mengkoordinir teman-temannya, menyusun rencana, memberikan briefing, bahkan sampai menyemangati mereka menjelang detik-detik mereka harus terjun ke kelas untuk mulai baksosnya. Sekalipun kecil mungil, kharisma dan terutama tekadnya sedikit banyak membantu kelompok itu menyelesaikan tugas berat CB 4. Kayak Oezil, play maker kesebelasan Jerman, yang nanti malam main sama Argentina . . .

Rekan sekantor saya juga banyak kali menginspirasi saya untuk komit. Cekatan dan responsif. Kalau saya bilang, “tolong saya dikirimi data ITIKAD dosen” saya belum selesai menutup mulut, data itu sudah mak glodak masuk ke inbox e-mail saya. Yang seperti ini bisa terjadi pasti karena dia komit untuk menyelesaikan data itu sesegera mungkin.

Mahasiswa saya di Prodi Inggris angkatan 2007 juga menginspirasi saya untuk komit ketika mereka mementaskan drama Holka Polkanya bulan lalu. Dengan kostum tukang sihir dan pulasan make-up nyentrik, mereka berakting di depan panggung, dengan lancar mengucapkan dialoog-dialog panjang dalam bahasa Inggris. Sampai heran saya dibuatnya: bagaimana mungkin mereka bisa menghafal baris demi baris sedemikian panjangnya, sedangkan saya menghafal teks Pancasila saja sudah gak karu-karuan. Ini karena mereka pasti sudah komit untuk berlatih dan berlatih sehingga pementasan itu sukses.

Masih banyak aneka rupa tindakan Ma Chungers yang menginspirasi saya untuk komit. Pak Satpam, mas dan mbak CS, dosen-dosen yang walau kelasnya ribut tapi tetap setia mengajar, staf-staf yang rela bekerja di atas jam 5 untuk merampungkan suatu tugas . . . Sadar atau tidak, mereka sudah menginspirasi saya untuk komit. Apakah saya sudah menginspirasi orang lain untuk komit? Ya, pasti sudahlah. . . . (hmmm . . .. ini kok jadi agak menghibur diri sendiri ya?)

=================
“Pak, saya sudah baca blognya tentang komit,” kata mahasiswa itu suatu pagi. “Saya ingin menunjukkan kepada Bapak bahwa saya juga komit.”

“Oh, bagus,” kata saya, sedikit heran karena saya tahu mahasiswa itu sedang dirundung banyak masalah pribadi. Komit macam apa yang dia ingin tunjukkan?

Lalu dia mengajak saya keluar kampus. Ke suatu hotel di kota Malang. Kami naik lift sampai ke lantai tertinggi. Saya diajaknya naik bahkan sampai ke atapnya. Tahu-tahu dia menghadap saya dan memandang saya lekat-lekat, sambil berkata, “Pak, saya sudah tidak tahan lagi. Cobaan ini terlalu berat buat saya. Saya ingin menunjukkan kepada Bapak bahwa saya juga berkomit untuk mengakhiri hidup saya saja”, dan sambil berkata demikian dia bergeser ke tepi dinding dan siap meloncat ke bawah.

“Lho, lhoooooo, itu mah namanya komit suisaid (commit suicide). Bukan itu yang aku maksud. Hei, brentiiii . . . !”

Wah, kacau . . .

Posted in: Uncategorized