Hadiah

Posted on July 1, 2010

2


Episode 1
Bentuknya boneka beruang. Sebuah tulisan “Gimme A Bear Hug” terpampang di perutnya yang gemuk, dengan sebuah aksen rajutan hati warna merah. Matanya masih ceria, sama seperti senyum lebarnya, namun warnanya sudah mulai kusam. Beberapa serabut benang mencuat dari pantatnya. Puluhan tahun sudah berlalu sejak sang pemberi mengulurkan boneka itu kepadanya sambil memberinya ucapan yang sampai kini masih terngiang-ngiang di telinganya: “Ini hadiah kecil dari aku . . . khusus buat kamu.”

Sayang sekali hubungan mereka selanjutnya tidak semanis beruang itu. Perbedaan pendapat menggiring ke perselisihan, lalu pertengkaran, makin lama makin sering sampai akhirnya keduanya tak tahan lagi dan berpisah setelah suatu konflik dahsyat.

Puluhan tahun sudah. Hubungan yang manis berubah menjadi horor yang menyedihkan dan bahkan masih menyimpan luka. Dan hadiah manis itu masih ada dalam genggamannya. Sudahkah waktu akhirnya tiba untuk membuang tanda mata itu?

Episode 2
Waktu saya masih kecil, saat paling menyenangkan adalah menunggu hari Natal tiba, karena pagi hari ketika saya membuka mata dan pergi ke bawah pohon Natal, selalu ada tumpukan kado disitu. Dengan mata berbinar-binar dan senyum mengembang, saya dan adik-adik lalu merobek bungkusnya dan kegirangan mendapati mainan baru, kotak pensil baru, kaos baru, bola sepak, raket ping-pong, wah, masih banyak lagi.

Suatu ketika, semua kado sudah dibuka, dan ternyata masih ada sebungkus kado kecil teronggok di sudut. Saya membukanya, ternyata isinya sekotak pensil warna. Ada secarik kartu ucapan selamat Natal melekat di atasnya. Ternyata dari seorang tante yang datang jauh dari luar pulau. Malam kemarin dia datang, dan setelah menginap hanya semalam, dia harus berangkat lagi pagi-pagi sekali ke kota lain. Nah, rupanya sebelum pergi, dia masih sempat menyelipkan hadiah kecil itu di bawah pohon Natal untuk saya dan adik-adik. How sweet!

Belasan tahun berlalu. Belasan Natal saya lalui. Dan saya tiba-tiba mendapati kado kecil nan sederhana itu masih ada di rak buku saya, belum terpakai sama sekali. Ah, saya masih ingat tante yang baik hati itu. Tapi mungkin sekarang sudah saatnya untuk membuang kado tersebut. Bukankah saya sebenarnya sudah tidak membutuhkannya? Dan toh . . . . saya sudah dibelikan yang jauh lebih bagus . . .

Episode 3
Langkahnya mantap menuju meja dimana seseorang sedang duduk dengan tenangnya membaca buku. Tahu-tahu dia gelisah dan langkahnya merandeg sejenak. Benda yang dipegangnya mendadak terasa berat seperti sekarung semen. “Haruskah aku memberikan hadiah ini kepadanya? Apa kata pasangannya nanti kalau melihatnya?”.

Dia melirik ke benda dalam genggaman tangannya itu. Oh, what a cute gift! Tapi momennya sudah tidak lagi pas, karena pikiran itu kemudian menghantamnya : “Pantaskah hal ini?”

Episode 4
Seorang pria yang sudah bercerai dari istrinya ingin sekali membelikan hadiah ulang tahun untuk putri kecilnya yang sekarang ikut ibunya. Dengan susah payah dia kumpulkan uang dari gajinya yang kecil untuk membeli sebuah boneka di pasar. Dengan sepeda motor bututnya dia pergi ke rumah mantan istrinya, yang ternyata sudah menikah lagi dengan seorang pria nan sejahtera. Suasana ramai karena mereka sedang merayakan ulang tahun si gadis kecil itu. Mobil-mobil bagus diparkir di tepi jalan masuk; si lelaki pelan-pelan masuk ke halaman rumah. Di ruang tengah dilihatnya putri kecilnya dikerumuni teman-temannya. Mereka sedang melihatnya membuka kado-kado ulang tahun. Si gadis kecil itu dengan mata berbinar-binar membuka satu persatu bungkus kadonya, dan terkuaklah baju-baju anggun, sepatu, mainan mahal, bahkan perhiasan.

Si pria itu tidak jadi masuk. Boneka sederhana dari pasar yang sejak tadi disembunyikannya di balik punggungnya tidak jadi diulurkannya ke anaknya yang sedang riang itu. Mendadak dia merasa nelangsa. Kemudian begitu saja dia berbalik, melangkah keluar. Dia naiki motornya dan pergi. Sesaat sebelum berbelok, dia lempar boneka pasar itu ke tempat sampah tepat di depan kelokan jalan ke rumah mewah itu . . .

Episode 5
Untuk orang introvert dan cuek seperti saya, menerima hadiah adalah sesuatu yang sangat langka. Hanya orang yang sangat terkesan atau sangat memahami saya punya nyali besar untuk memberi saya kenang-kenangan. Karena hal spesial itulah, saya merasa perlu mengenangnya dengan memajang hadiah-hadiah itu di tempat kerja saya. Di ujung senja, ketika kantor sudah sepi dan saya sudah setengah tepar karena kesibukan yang makin gila, kadang-kadang saya sempatkan melihat pemberian-pemberian itu seperti seorang kolektor barang antik menikmati koleksinya. Saya menghadirkan kembali wajah-wajah pemberinya, mengenang momen ketika mereka memberikannya kepada saya . . . .

Benda-benda itu adalah hadiah. Untuk saya. Sampai kapan pun saya tak akan pernah membuangnya . . .

Posted in: Uncategorized