Merasa Cukup: Mengapa Sulit?

Posted on June 29, 2010

3


oleh Patrisius.

Pembantu saya punya seorang kakak. Suatu ketika dia datang berkunjung ke rumah sekaligus menengok adiknya. Sang kakak ini adalah seorang nelayan. Kulitnya yang legam terbakar matahari tanpa ozone dan urat-uratnya yang liat dan pejal mengaliri lengan dan kakinya menunjukkan kerasnya hidup sebagai seorang nelayan. Dia bercerita bahwa kalau sedang tidak musim ikan, dia menyewakan perahunya untuk mengangkut pasir.

“Berapa dapatnya kerja seperti itu?” tanya saya di suatu sore ketika kami duduk-duduk berbincang di beranda rumah.

Dia menyebutkan sejumlah rupiah.

“Apa cukup segitu?” saya tidak tahan untuk tidak bertanya.

“Yah, sudah cukuplah,” jawabnya sambil tersenyum santai. “Anak bisa sekolah, makan sehari-hari tidak kurang. Waktu Lebaran masih bisa beli baju dan sepatu baru.”

Saya terkesima mendengar jawabannya. Enak sekali dia bilang sudah cukup. Hare geneee, penghasilan sebagai nelayan sudah cukup, katanya. Ck ck ck . . .

Di tengah hidup dimana segalanya bisa dimiliki kalau kita punya uang banyak, dimana martabat kadang-kadang diukur dari seberapa banyak materi dan pangkat yang berhasil diraih dan dicapai, kalimat “sudah cukup” itu terasa sangat aneh.

Tapi kemudian saya merenung lebih jauh. Kapan ya sebenarnya kita ini merasa cukup?

Percakapan itu terjadi ketika saya masih sibuk studi mengejar gelar Master. Setelah Master diraih, tentunya saya tidak mau merasa cukup, dan bertekad harus dapat gelar Doktor. Nah, sekarang saya sudah Doktor, tapi gak mau duonk berhenti sampai disini! Maka saya pun nulis kayak orang gila menghasilkan karya ilmiah sebanyak mungkin sehingga saya bisa meraih gelar Profesor.

Tahun 1999 saya menduduki jabatan struktural pertama sebagai Kepala Pusat Penelitian. Tapi setelah empat tahun bekerja di lembaga itu ternyata belum membuat saya merasa cukup. Saya cabut ke lembaga lain, menjadi direktur Language Center. Disini pun saya merasa masih saja kurang, maka loncatlah saya ke lembaga lain lagi, kali ini menjadi direktur QA. Eh, belum juga habis masa jabatan itu, saya melihat peluang posisi lain di lembaga yang sama, dan mendadak saya lapar lagi, maka jadilah saya merangkap jabatan. Tadi dalam mobil yang membawa kami ke Surabaya, pimpinan tertinggi memberitakan, “Pak, tahun depan akan ada posisi . . .”, belum juga selesai dia bicara, saya buru-buru menyahut, “Oh, ya, itu saya ya bisa kok!” . Sampai akhirnya saya terhenyak sendiri: loh kenapa jadi begini ya? Kenapa saya jadi tidak bisa mengatakan “ok, ini sudah cukup!”.

Kapan Anda merasa sudah cukup? Kalau ada yang sudah, mohon bisa menuliskan resepnya ke blog ini dan akan saya jadikan salah satu posting teladan!

Cukup sampai disini dulu.

Posted in: Uncategorized