Perpisahan (part 2)

Posted on June 28, 2010

0


oleh Patrisius

“Goodbye is the hardest word to say”, nyanyinya Celine Dion. Tidak ada yang bisa memungkiri. Ketika harus berpisah, jarang ada orang yang senang. Eh, tapi on seconds thought, ada juga dink yang senang, yaitu kalau berpisah dengan penderitaan, kemiskinan, duka cita; tapi well, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berpisah dengan orang yang menyebalkan. Di luar aja pura-pura “oh, saya tidak akan melihatmu lagi. Selamat jalan ya, semoga sukses,” padahal dalam hati aku bersorak sorai: “Horeee, . . . pergilah kau kolega menyebalkan. Yihaaa!”

Kembali ke perpisahan, saya percaya setiap orang punya apa yang dinamakan vibe, getaran yang dibawa dari auranya, atau hatinya, atau jiwanya, atau apalah pokoknya yang tidak kelihatan mata tapi terasakan sangat. Kalau getaran itu hilang karena orang tersebut tidak lagi berada di sekitar kita, umumnya kita akan merasa ada sesuatu yang hilang. Kemudian kita akan merindukannya. Aneh ya? Apalagi kalau orang tersebut juga bukan orang yang heboh atau sangat gorgeous (baca posting saya tentang “You Are Gorgeous”). Tapi intinya: setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup, membawa getaran sukmanya sendiri-sendiri, dan karena sejatinya kita semua adalah saudara dari sumber yang SATU itu, kita saling mengisi dan saling kehilangan manakala salah satunya harus berpisah.

Saya nih orangnya paling gak suka anjing atau binatang peliharaan lain. Anjing di rumah selalu menjadi incaran umpatan atau bahkan sandal saya kalau lagi sebal. Nah, suatu ketika, anjing itu hilang entah kemana. Saya sendirian di rumah, lagi sakit pula. Tiba-tiba entah darimana datangnya, ada perasaan saya merindukan kehadiran anjing sialan itu. Yang biasanya ada suara langkahnya di garasi, sekarang sepi. Yang biasanya gonggongannya menyalak ketika ada orang lewat, sekarang hening. Mendadak ada sesuatu yang hilang. “You leave a hollow void in the place where you usually stood”, demikian saya menulis di salah satu blog saya ketika saya meninggalkan Ubaya Language Center. Begitulah. Kita merasa kehilangan vibrasi itu. Foto dan rekaman suara tidak mampu menggantikan getaran itu. Sekali dia tidak ada lagi disitu, kita merasa ada sesuatu yang hilang. . .

Kadang-kadang kehilangan itu bisa begitu menggigit: seorang ibu salah satu pelaut Rusia yang kapal selamnya tenggelam akhirnya meninggal tidak tahan sedih hanya beberapa bulan setelah sang putra yang sangat dikasihinya itu tewas di kapal selamnya. Ini sangat bisa dimengerti. Menyayat memang . . .

Nah, kembali ke anjing saya yang sialan itu. Semenjak peristiwa itu, saya jadi mulai menyukai anjing. Sekarang ada seekor anjing di rumah yang menjadi kesayangan seisi rumah, termasuk saya. Plus tiga ekor hamster yang rajin fitness, ha ha haaaa!

So, well, the lesson behind this posting is: sejatinya Anda tidak pernah kehilangan. Lihat saja di sekeliling Anda: ada saudara, ada rekan, ada adik atau kakak, ada mentee, ada mentor, ada dosen. Selagi getaran sukma mereka masih bisa kita rasakan, ayo kita nikmati saja hidup ini bersama-sama.

* ditulis untuk seorang mahasiswa yang sempat merasa tidak nyaman membaca posting “Perpisahan” saya yang pertama. Yang ini sengaja saya buat lebih ringan untuk menghiburnya . . .

Posted in: Uncategorized