Wanita, Bunga Mawar, dan Botox

Posted on June 26, 2010

2


Sementara dia berbicara, saya perhatikan penampilannya. Kulit kuning langsat, jemari lentik dan panjang, dengan seuntai perhiasan melingkarinya, wajahnya mulus tanpa jerawat, tanpa kerutan, tanpa kantung mata atau gelambir di pipi. Tanpa menyentuh pun, saya bisa merasakan kekencangan kulitnya. Rambut panjangnya, legam mengkilat dengan ujung-ujungnya bak air terjun menghunjam sampai ke pangkal dadanya.

Lalu mendadak saya membayangkan rupanya empat puluh atau lima puluh tahun kemudian. Mungkin dia sudah mulai beruban, keriput mulai meraja di wajah dan tangannya, jemarinya kelihatan tua dan rapuh, dagingnya melunak; mungkin juga badannya sudah mulai sedikit bungkuk dengan timbunan lemak di beberapa bagiannya. . .

Kita semua menjadi tua. Pria menua, demikian juga wanita. Celakanya, atau sayangnya, untuk dunia ini dan juga banyak wanita, menjadi tua seperti tertimpa bencana. Dan sekalipun kita berusaha membungkusnya dengan ungkapan-ungkapan positif, tetap saja tersirat bahwa sebenarnya menjadi tua bukan hal yang didambakan. Coba perhatikan kalimat-kalimat ini:

“Wanita itu sudah memasuki usia lebih setengah baya, namun kecantikannya di masa mudanya masih terlihat”.

Ini kan sebenarnya mengatakan bahwa di usia tua itu dia sudah kehilangan kecantikannya, dan yang terlihat hanya sisa-sisa keindahannya yang makin lama juga akan makin lenyap .

“Dengan bergaya hidup sehat dan rajin berolah raga, wanita paruh baya itu tetap tampil awet muda.”

Ini lebih jelas lagi: wanita itu berusaha keras mempertahankan kemudaannya; menjadi tua sedapat mungkin dihindari dengan cara mempertahankan kemudaan selama mungkin.

Dan saya kira tidak ada atau belum ada orang yang dengan suka cita menyambut masa-masa menjadi tua. Semuanya ingin awet muda. Maka lagu era 80 an yang populer sampai sekarang adalah “Forever Young”, dan bukannya “Suddenly Old” .

Untuk wanita, nampaknya hal ini menjadi semacam hantu tersendiri. Sementara kaum pria masih dihibur dengan ungkapan “seperti padi, makin tua makin berisi; makin tua makin menjadi”, wanita harus dibuat gusar dengan ungkapan – ungkapan di atas, atau dengan ungkapan yang sekilas memuja namun sebenarnya menohok: “Pada usia itu, dia berada pada puncak kecantikannya” (karena beberapa belas tahun kemudian, kalimat itu menjadi “. . . nah, sekarang dia sedang menuruni puncak itu dan menjadi tua, inevitably getting older!).

Atau yang ini: “gadis itu ibarat mawar yang sedang merekah” (karena beberapa belas tahun kemudian, sama seperti sekuntum mawar, dia akhirnya juga menua, rapuh, kecantikannya mrotoli satu demi satu . . .). Ah, sadis benar metafora dengan bunga mawar itu. Semua juga tahu bahwa mawar hanya merekah sesaat, bergelimang elok, setelah itu layu dan mati. Tidak adil, sementara pria dikiaskan dengan padi atau kelapa yang makin tua makin berisi, wanita dikiaskan dengan bunga mawar . . .

Itu sebabnya saya yakin bahwa industri kecantikan wanita tidak akan pernah mati (ini saya tulis juga di posting “Lapangan Pekerjaan di Millenium Kedua”). Semua wanita ingin tampil bugar, segar, kencang, ramping, tanpa kerutan, karena semua itu adalah ciri kemudaan. Maka produk-produk dengan khasiat seribu satu juga terus bertumbuh: botox, penghilang kerut, pelenyap kantung mata, krim pelembab, pengencang kulit, wis banyak pokoknya, (maaf kalau salah sebut sebab saya juga nggak tahu apa-apa tentang produk-produk itu, hanya mengulang apa yang sering saya dengar sambil lalu saja).

Apa sebenarnya resep awet muda? Saya mendapat ilham dari postingnya Susilo Utomo, seorang MaChunger: “secangkir kopi setiap hari, sayur, dan hati yang ikhlas.”

Dua yang pertama itu jelas guyon, tapi yang terakhir itu membuat saya terkesima.

Okelah, sudah panjang posting ini. Tentang yang terakhir itu akan saya untai di posting berikutnya.

“What have you been doing in this long holiday?”

“Oh, nothing special, Sir. Just aging.”

Posted in: Uncategorized