Perpisahan

Posted on June 24, 2010

3


oleh Patrisius

Ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya, tidak pernah terbayangkan bahwa mereka akan menjalani sepenggal hidupnya bersama-sama.

Ketika mereka bertemu untuk terakhir kalinya, tidak pernah terbayangkan bahwa mereka akhirnya harus berpisah.

Tapi itu terjadi. Bertemu, hidup bersama membagi suka dan duka, lalu berpisah.

Perpisahan itu seperti kematian, kata filsuf Perancis. Kamu sadar bahwa tubuhmu ada disitu, tapi kamu sudah tidak lagi bisa menggerakkannya; tidak bahkan untuk sejentik jari atau sejentik bulu matapun. Juga, ketika kamu sudah berpisah dengan seseorang yang kamu sayangi, kamu tahu bahwa dia ada di suatu ujung dunia ini; dia juga begitu. Tapi jangankan menyentuh satu sama lain, bahkan untuk menyapa pun sudah mustahil.

Sesaat sesudah akhirnya dia memutuskan untuk tidak lagi menyapa perempuan itu, si pria seperti ikan yang gelembung renangnya rusak: limbung, berjalan hampir menabrak dinding karena orientasi otaknya sudah kacau. Sebagian hidupnya mendadak berlubang segede Black Hole. Kesibukan dunia sekitarnya seperti ribuan Vuvuzela di lapangan bola: mendengung tapi tidak mengisi, sementara dia ibarat seorang pemain bola yang gawangnya baru kebobolan sepuluh kali. Linglung, kosong, kalah . . .

Tapi toh dia selamat. Tidak menjadi patah. Tidak menjadi gila. Life goes on, kata hatinya. Maka dia pun hanyut begitu saja dalam kesehariannya; dengan rekan-rekannya, dengan pekerjaannya, dengan hobinya, dengan kakak adiknya. Semua yang dulu seperti angin lalu ketika dia masih bersama si perempuan itu mendadak menjelma menjadi sumber perhatian baru, sumber kesegaran baru, sumber gairah baru. Dan ibarat batu krakal yang ditetesi hujan dan berangsur-angsur mulai ditumbuhi lumut, hatinya pun sembuh.

Sampai suatu ketika tanpa dinyana si perempuan itu muncul lagi di jangkauan matanya. Muncul begitu saja. . .

“Apakah benar kita sudah berpisah?”

Si pria tidak mampu berucap sepatah kata pun.

“Apakah diam itu berarti ‘iya?”

Kali ini dia mengangguk.

“Oh, . . .” si wanita agak tersentak. “Semudah itukah?”

Si pria berbalik dan seperti hantu langkahnya membawa tubuhnya menyusur bumi menjauhi si wanita yang terkesima.

“Tidak ada yang mudah dalam perpisahan,” kata si pria dalam hati. “Sangat, sangat tidak mudah untuk berpisah setelah sekian lamanya menjalin sayang dengan seseorang. Tapi . . . . may be we are not meant to be!

Mungkin it’s that simple. We are not meant to be, itu saja. Jadi pendeknya, perpisahan itu harus terjadi. Biar sampai nangis gerung-gerung dan sebenarnya tidak rela, perpisahan itu sudah takdir. Terjadi begitu saja”.

Tapi hidup terus bergulir. Life goes on. Perpisahan mengakhiri sesuatu tapi juga mengawali sesuatu yang baru. Ketika sudah merasa nyaman dalam menjalani yang baru tersebut, enggan rasanya kembali untuk menyambung kembali apa yang sudah terpisah tadi. Yang sudah terpisah biarlah terpisah. Mungkin sudah takdirnya. May be that’s what is meant to be . . . Apa yang saat ini dan hadir disini lebih baik dialami, dinikmati, . . .

dan disyukuri.

Good bye!

Catatan: Vuvuzela adalah terompet yang ditiup puluhan ribu orang ketika menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010 di stadion. Bunyinya seperti dengung ribuan lebah.

Posted in: Uncategorized