Kreativitas a la MURI: Nol Besar

Posted on June 18, 2010

4


Kue tart terbesar; martabak terpanjang; pohon Natal tertinggi; kue coklat terpanjang.

Demikianlah sering kita dengar berita pemecahan rekor oleh MURI (Museum Rekor Indonesia). Terlintas pertanyaan: nilai kreativitas apa yang ditawarkan oleh upaya-upaya semacam itu?

Jawabnya: NOL BESAR. Apalah artinya membuat penganan serba terbesar, terpanjang seperti itu? Disebut kreativitas pun jelas bukan, sebab seperti yang telah didefinisikan sebelumnya, kreativitas harus membawa perubahan PLUS nilai positif. Lha kalau hanya menghabiskan tepung, telur, mentega, coklat sampai beratus-ratus kilo hanya untuk membuat makanan serba ter seperti itu, apalah nilai manfaatnya?

Bahwa pemecahan rekor seperti itu membutuhkan upaya dan kerja sama yang luar biasa, ya memang. Tapi kan sebenarnya ada tindakan lain lebih positif yang juga membutuhkan upaya dan kerja sama yang luar biasa. Kalau upaya dan kerja sama yang luar biasa itu hanya membuahkan barang serba terpanjang atau terbesar, apalah artinya? Sekali lagi, nol besar.

Pemborosan. Itu jelas. “Ah, tidak juga,” kata yang yang membela. “kan makanan tersebut bisa dibagikan ke fakir miskin atau orang-orang lain yang bisa menikmatinya?”. Ah, ini pola pikir sudah bengkok pula. Tindakan seperti itu hanya menyuburkan cara hidup serba meminta, mengharapkan, mengungkapkan belas kasih superfisial yang tidak menukik pada akar permasalahan. Bagi yang sudah berpunya dan makan hasil-hasil rekor seperti itu, apa manfaatnya? Apa iya bisa berbangga dengan mengatakan “ah, aku sudah makan coklat terpanjang?”. So what gitu loh??!!

Maka sangat benarlah perkataan seorang Menteri yang baru-baru ini mengatakan bahwa upaya pemecahan rekor seperti itu hanya menegaskan kerendahdirian bangsa ini.

Barusan saya melihat kreativitas seorang mantan murid dengan pohon Natal yang dia susun dari pipa, kempyeng, dan barang-barang sejenisnya. Nah, ini baru contoh kreativitas yang betul. Tanpa menjadi pohon Natal raksasapun, pohon buatannya sudah melambangkan semangat recycling tanpa menanggalkan makna religiusnya.

Posted in: Uncategorized