Saya Sombong dan Saya Benci!

Posted on June 10, 2010

3


Saya tidak suka orang sombong.

Saya tidak suka menjadi sombong.

Saya benar-benar tidak suka kenapa konsep sombong harus mengada dalam hidup ini.

Mengapa ya kata ini harus ada dalam perbendaharaan hidup kita? ‘Kesombongan adalah awal dari kehancuran diri,’ kata seorang bijak. Ya betuulll! Tapi bahwa kata itu ada menunjukkan bahwa sifat itu memang ada , dan itu berarti bahwa ada sebagian orang di dunia ini yang memang sombong.

Kenapa seorang manusia harus sombong? Tidak ada gunanya. Sifat itu hanya akan membawa rasa malu dan jengah manakala ternyata dia mendapati bahwa ada yang lebih dari dirinya. Ternyata ada yang lebih kaya. Ternyata ada yang lebih populer. Ternyata ada yang lebih cantik atau tampan. Ternyata ada orang yang menerima penghargaan lebih banyak. Dan itu pasti. Di atas langit masih ada langit. Kecuali Anda Tuhan (tapi Tuhan pun saya kira juga tidak sombong)

Kalau Anda termasuk orang yang sangat bangga akan kondisi fisik atau kesejahteraan material Anda atau prestasi Anda, hati-hati. Rasa bangga itu mudah sekali tergelincir menjadi rasa sombong. Dan kalau sudah sombong, tinggal menunggu waktu saja Anda akan bertemu dengan orang yang ternyata jauh lebih tinggi daripada Anda dalam segala hal. Seketika Anda akan terhenyak karena merasa kalah, . . .

Saya pernah ketemu dengan seseorang scholar yang dengan nada merendahkan berbicara tentang rekan-rekannya yang tidak produktif. Kemudian dengan bangganya dia mengeluarkan karyanya: sebuah buku tipis yang baru terbit. “Ini saya sudah menerbitkan buku,” katanya. “Oh, sudah berapa buku yang kau terbitkan?” saya tanya. “Oh, ya baru satu ini!”.

Astagaaafirullah . . . saya sudah menerbitkan lima buku dan tak pernah sekalipun saya berkoar tentang itu. Rekan saya Pak Windra saja bukunya sudah puluhan, tapi dia juga tidak pernah berkoar-koar tentang itu. Lha ini baru satu saja sudah . . . .

Di lain kesempatan, saya dan beberapa rekan (terpaksa) semeja makan dengan seorang kolega yang dikenal bermulut besar. Betul saja, baru lima menit duduk dia sudah membangga-banggakan pencapaiannya. Yang dia jadi ketua asosiasi inilah, yang itulah, yang masih punya koneksi ke gubernur lah, yang mobilnya baru saja ganti lah . . .

Tanpa banyak bicara, saya mengangkat piring dan gelas saya, kemudian dengan tenangnya beranjak ke meja lain. Sungguh, saya tidak tahan berdekatan dengan orang sombong.

Ok, coba periksa diri Anda. Anda kaya? Anda berprestasi luar biasa, dicalonkan jadi penerima Nobel? Anda baru saja membeli Porsche? Atau Anda baru saja selesai studi Doktor dengan gelar summa cum laude? Diamlah. Duduk dengan tenang, dengarkan orang lain. Lalu biarkan seorang rekan dekat mengungkapkan semua prestasi Anda itu ke orang lain. Anda hanya tersenyum menanggapinya.

Bukankah itu jauh lebih manis?

Posted in: Uncategorized