Saya Busur dan Kau Anak Panahnya

Posted on June 3, 2010

0


oleh Patrisius

Kahlil Gibran sudah mengatakannya dengan sangat elok: “anakmu bukanlah anakmu. Dia lahir lewat engkau, tapi bukan dari engkau. Bagai busur panah, kau lepas dia melesat darimu, tapi perkara dia mau menghunjam tepat sasaran atau malah mblehar ke kanan, ke kiri, ke atas atau ke bawah, sesungguhnya kamu benar-benar tidak bisa memastikannya”.

(Hmm, ya benar juga sih; kalau semua anak panah yang lepas dari busurnya pasti menancap di sasaran, niscaya tidak usah ada pertandingan memanah di olimipade).

Saya punya dua anak kandung, sekian puluh mahasiswa, dan beberapa belas mentee. Sebagai orang tua normal, sudah tentu saya berupaya keras mengarahkan mereka ke sasaran yang saya idam-idamkan. Kepada kedua anak saya saya selalu menekankan: “Kamu harus mandiri. Kamu harus rajin belajar, pintar komputer, tidak gaptek, pintar Mandarin dan Inggris, soalnya pada jamanmu kelak persaingan akan semakin sengit!” dan bla bla bla lagi.

Di kelas Inggris, saya pernah membuat beberapa mahasiswi muntah-muntah karena tidak tahan saya selalu membetulkan grammarnya. Bahkan sampai status FB nya pun tidak luput dari koreksi grammar saya. Saya bersikeras: “Kalian calon lulusan Ma Chung. Kalau grammarnya ancur kayak gini, kalian hanya akan jadi bahan tertawaan di pasar kerja. Kalian harus berbahasa Inggris dengan perfect, tidak boleh telat masuk kelas, harus disiplin . . . .” dan bla bla masih banyak lagi.

Kepada para mentee di Curcuminoid, saya pernah membuat mereka tercenung lama ketika saya kuliahi mereka tentang etos kerja bangsa Indonesia. “Bangsa kita tuh terkenal malas; mental instan; kerja sedikit maunya cepat dapat untung banyak. Kalau ijazah bisa dipalsu kenapa tidak? Kalian harus bisa jadi beda. Disiplin, berkarakter baik, tidak emosional, kreatif, gigih, mau bersusah payah, tidak malu salah atau gagal, . . . .” dan bla bla bla masih buanyak lagi.

Ya Gustiii, berapa lama saya habiskan waktu untuk menceramahi mereka, mencoba memastikan bahwa mereka akan tumbuh jadi manusia benar, utuh akal budinya, sehat mental dan jasmaninya, tajam pikiran dan tangguh mentalnya??

Tapi Kahlil Gibran menyadarkan bahwa sejatinya saya tidak akan pernah bisa sepenuhnya menentukan ke arah mana dan bagaimana anak-anak ini akan berkembang. Sungguh. Hanya Tuhan yang tahu, itupun kalau Dia ada. Bagaimana saya bisa memastikan bahwa mereka akan menjadi wirausahawan sukses, atau ilmuwan cerdas, atau pemimpin bijaksana?

Bagaimana kalau sebagian dari mereka lulus kemudian menikah, kemudian tenggelam dengan setia di balik dapur dan olesan kosmetik untuk melayani suaminya dan anak-anaknya?

Bagaimana kalau sebagian dari mereka kemudian menjadi politikus kacangan, jadi pimpinan daerah karena koneksi dan main sogok sana sogok sini, hanya mampu mengumbar janji setelah itu bergaya hidup mewah di atas uang rakyat?

Bagaimana kalau sebagian dari mereka kemudian jadi provokator? Mengusik ketenangan komunitas dengan isu-isu meresahkan, kemudian main bakar dan baku hantam dengan saudara setanah air sendiri?

Bagaimana kalau mereka ternyata jadi pecundang? Ditolak kerja disana-sini, nyari pacar setengah mati, akhirnya hanya bisa patah hati lalu jadi junkie?

Atau, ah, dari tadi kok mikir yang jelek melulu. Nah, pasti ada lah yang menjadi orang baik-baik: jadi karyawan teladan, jadi manusia pengabdi kemanusiaan, pejuang lingkungan hidup, guru teladan, atau pengusaha kaya raya nan murah hati.

Tapi saya tidak pernah bisa pasti. Bahkan saya sangat tidak bisa memastikan bahwa nilai-nilai baik dan petuah panjang lebar yang saya berikan ketika mereka kuliah dulu akan mereka bawa setelah lulus. Kehidupan yang maha luas ini akan menyambut mereka di luar dan wuzzz! Sama seperti anak panah yang melesat dari busur: baru juga separuh jalan tiba-tiba ada angin samping menghantam dan si anak panahpun meleset jauh dari sasarannya.

Si busur hanya bisa termangu . . .

Posted in: Uncategorized