Jenuh . . .

Posted on June 3, 2010

1


Saya bosen. Pekerjaan semenarik apapun, pada suatu saat akan membentur titik dimana saya tahu-tahu masuk ke sebuah kamar dengan empat dinding dan langit-langit yang labelnya sama: JENUH. Pagi ini saya ketemu rekan saya, sama-sama pimpinan sebuah unit, yang ternyata juga melenguh sama : “Gue jenuh”.

Lalu saya cerita: suatu ketika saya ke swalayan, mengamati kerjaan si kasir. Dari menit ke menit dia hanya menggesekkan barang-barang belanjaan ke scanner, menerima uang, membuka laci dan memberi uang kembalian. Begituuuu terus, dari hari ke hari, minggu ke minggu, tahun ke tahun. . . . .

“Seandainya saya jadi dia,” demikian saya bilang ke rekan saya itu, “saya pasti sudah mati karena jenuh luar biasa, atau minimal gila”.

Saya masih beruntung punya pekerjaan yang membuat saya bisa kreatif, menggodok gagasan, mematangkannya, melaksanakannya; saya masih bisa menulis paper, presentasi kemana-mana, berdebat dengan hadirin, mengajar, membuat murid pinter (atau kadang tambah bingung). Dibanding si kasir itu, saya jelas jauh lebih beruntung.

“Kau benar,” akhirnya teman saya itu berkata.

Posted in: Uncategorized