Because They Are Fucking Human Beings !

Posted on May 29, 2010

1


Kapten Amerika itu kewalahan menahan serbuan tentara Vietkong. Satu per satu anak buahnya tumbang diterjang peluru lawan. Tapi dia terus berjuang mengepung dan merebut desa yang penuh dengan serdadu komunis itu. Ketika akhirnya dengan susah payah desa itu berhasil ditaklukkannya, saking geramnya, semua serdadu lawan yang menjadi tawanannya dihajarnya dengan popor senapannya sampai pecah berdarah-darah.

Mendadak seorang anak buahnya melompat ke depannya dan menahan tangannya yang terus main gebuk. “Stop!” teriak si prajurit itu. “Hentikan! Mereka toh sudah menyerah”

Sang kapten meronta dengan geram dan hampir saja menggebuk anak buahnya sendiri. “Yes, but they deserved this! They killed my men!!” teriaknya kalap. “Why do I have to feel sorry for our fucking enemies!!??”

“Because they are fucking human beings!!!” teriak sang anak buah tak kalah kerasnya.

Because they are fucking human beings . . .

Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai sekarang bahkan ratusan tahun sejak saya menonton adegan itu. Dalam hidup ini, kadang-kadang saya berpikiran seperti si kapten yang kalap itu. Kalau ada orang-orang yang membuat saya merasa tidak nyaman, entah karena arogansinya, atau karena cerewet, atau karena menikam dari belakang, atau karena tidak kooperatif, saya berpikiran sebaiknya mereka saya buat menderita habis-habisan. Terbayang gambaran saya menghancurkannya sampai remuk-redam supaya mereka tidak lagi membuat saya kecewa, marah, atau tersinggung berat.

Tapi kemudian terngiang ucapan serdadu Amerika itu: “they are fucking human beings”.

Saya disadarkan oleh kalimat itu. Betapapun, orang-orang yang tidak saya sukai itu—kalau tidak bisa dikatakan ‘my enemies’—ternyata ya manusia juga. Sama seperti saya, mereka pun berdaging, berjiwa, dan berperasaan. Sama seperti saya, mereka juga punya keluarga, anak, istri, suami, dan orang-orang yang mengasihi mereka. Sama seperti saya, mereka pun punya sudut pandang sendiri yang—betapapun absurdnya dari sudut pandang saya—sebenarnya tetap berhak untuk didengarkan dan diperhatikan.

Maka, sama seperti sang sersan yang akhirnya memperlakukan tawanan-tawanannya dengan manusiawi, saya disadarkan bahwa saya juga harus mampu bertindak proposional: marah ya marah, kecewa ya kecewa, namun kita tidak boleh keterlaluan dalam mengungkapkannya. Seandainya saya akhirnya yang keluar sebagai pihak yang benar dalam pertikaian itu, saya tetap harus menghargai orang-orang itu sebagai manusia seutuhnya.

Post-note:

Perang di atas adalah sepenggal adegan di film “Platoon”. Sang kapten itu diperankan oleh Tom Berenger, dan sang sersan yang berperikemanusiaan itu diperankan sangat memikat oleh Charlie Sheen.

Kata “fucking” disini tidak mungkin bisa dihapus atau diganti dengan tanda ******* , karena tanpa ungkapan itu pesan di atas menjadi sangat kurang daya jotosnya.

Posted in: Uncategorized