Bakti Sosial Curcuminoid

Posted on May 22, 2010

3


by Patrisius

Sebagai seorang dosen, saya sebenarnya tidak tahu banyak tentang cara memimpin, apalagi dalam kepemimpinan yang disebut mentoring. Yang saya percayai hanya satu: bahwa pada banyak kala, mentee-mentee saya harus dibiarkan berupaya sendiri, mengorganisir dirinya sendiri dan teman-temannya, bekerja sama merencanakan program dan mengeksekusinya dengan lancar, tanpa meninggalkan tata krama dan kendali atas emosinya. Sebagai mentor, saya merasa bahwa ketika mereka berjuang seperti itu, saya perlu hadir di tengah-tengah mereka, memberikan panduan umum, memberikan dorongan, dan sekali-sekali mengingatkan kalau ada hal-hal yang sangat genting yang perlu perhatian. Ini yang saya rasakan dalam program Character Building 4 yang dipuncaki dengan acara bakti sosial di SD Karang Widoro, Dau, di Malang.

Kami agak terhuyung-huyung di awalnya. Saya maklum. Seperti saya, mereka pun sibuk dengan kuliah dan seribu tugas lainnya di kampus. Tapi selalu saja ada yang kemudian berinisiatif memimpin. Kala yang ini mulai kelihatan payah, yang lainnya ganti mengambil alih komando. Sementara itu, yang lain dengan patuh mengikuti komandonya dan bekerja dalam diam memberikan support teknis yang perlu. Demikianlah setelah dengan agak susah payah, kami berangkat juga pagi itu ke SD tersebut.

Program kami adalah memberikan penyuluhan tentang hidup sehat, hidup hemat, dan penggunaan komputer sebagai media pembelajaran. Mahasiswa-mahasiswa saya ini semuanya anak kota, sangat techno-savvy, dan yang jelas tidak pernah harus mengajar anak-anak SD di sebuah daerah yang boleh dikata jauh dari sentuhan kemajuan teknologi modern. Malam sebelumnya, salah satu meng sms saya dengan agak panik mengatakan: “Saya tidak suka anak kecil. Dan saya tidak tahu harus bagaimana harus mengajar mereka, apalagi kalau anaknya nakal-nakal”. Saya besarkan hatinya. Saya balas: “ya sudah, langsung saja mengajar. Ini kiat-kiatnya. Kasih mereka pertanyaan atau game kecil, supaya tidak sempat nakal. Kelak kamu pun akan punya anak, jadi yang beginian anggaplah sebagai praktek”. Demikianlah. Anak-anak muda ini langsung saja mengajar dengan gayanya sendiri-sendiri, dilandasi ‘bondho nekad’.

Saya takjub melihat bahwa ternyata mereka mengerjakan tugas itu dengan baik. Ada yang dengan mudahnya melebur ke dunia anak-anak, membahas materi dari lembaran di tangannya dengan santai, diselingi pertanyaan-pertanyaan yang membuat adik-adiknya di SD itu merasa ingin tahu, dan akhirnya berpartisipasi. Tak lupa ada guyonan-guyonan kecil di antaranya, membuat suasana menjadi makin cair dan enak.

Ada yang gayanya dosen banget. Suasananya tidak secair yang pertama. Tertib, teratur, sedikit serius, ; ‘wah, persis kayak ujian tesis’ batin saya dalam hati ketika mengamati kelasnya. Ya, sesuai dengan muridnya-muridnya yang ternyata juga cenderung diam dan agak serius. Yah, tidak mengapa. Pengajaran kedua mentee saya itu toh mengalir dengan lancar.

Nah, gaya mentee yang ini membuat saya menahan tawa. Pada awalnya, dia mengajar hanya dalam hitungan menit, kemudian mendekati saya. “Pak, udah selesai. Mau diapakan lagi?”. Saya kaget. “Yah, masa ngajar cuma lima menit??”, tanya saya. “Coba kamu kasih game atau tebak-tebakan dari materi yang sudah kamu terangkan tadi.” Dia kembali ke adik-adiknya. Sesaat kemudian, terdengar suara riuh dan tawa dari murid-muridnya. Ternyata mentee saya yang satu ini kreatif sekali dalam menghidupkan suasana kelas dengan tebak-tebakannya. Setiap pertanyaan dia jadikan lomba, dan anak-anak SD itu dengan sangat bergairah mengacungkan jarinya untuk menjawab. Dengan gaya bahasa tubuh yang memang komikal, ditambah potongan rambutnya yang –menurut komentar salah satu muridnya—kayak Kangen Band, si mentee ini dengan semangat melanjutkan gamenya. Anak-anak SD itu dipanggilnya “coy”, seperti kalau dia manggil temannya: “Hei, ayo coy, jawabannya apa?”. Di puncak ‘kegendhengannya’, dia mengeluarkan dompetnya dan menghadiahi beberapa lembar ribuan ke anak-anak yang berhasil menjawab pertanyaannya. Karuan saja adik-adik kecil itu tambah girang. Seru, asyik, dan lucu pula!

Nah, mentee yang satu ini mengajar dengan gaya keibuan. Karena dasarnya kalem dan paling pendiam di antara semua mentee saya, dia pun mengajar dengan gaya seperti itu. Bahkan ketika teman-temannya sibuk pada acara selanjutnya untuk para guru, mentee yang satu ini masih sekali-sekali ‘ngemong’ adik-adiknya yang bersliweran di depan kelas.

Acara berikutnya adalah game di kelas. Sudah bisa ditebak, acara ini menjadi riuh rendah karena teriakan kegirangan para murid SD itu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kakak kakaknya, dan tentu saja hadiah-hadiahnya. Senang juga bisa memberikan kemeriahan seperti itu. Edufuntainment, istilah modernnya. Yang membuat saya terpana adalah ketika acara berakhir, beberapa dari adik-adik SD itu meraih tangan kakak-kakak mahasiswa dan menciumnya, sebagai ucapan terima kasih dan selamat tinggal. Singkat, tapi berkesan sekali. Saya rasa para mentee saya pun agak terperangah dengan gesture manis itu. Nah, Ma Chungers, sudahkah kita menunjukkan sikap yang sama di kampus?

Acara berikutnya setelah istirahat adalah pembelajaran komputer untuk para guru. Ada 5 ibu guru plus Kepala Sekolah yang menghadiri. Materinya tentang Power Point. Dengan penuh minat, para guru itu mengikuti penjelasan dari mentee saya yang dari Prodi Sistem Informasi dan mentee-mentee lain yang mendampinginya di sebelahnya.

Buat para guru itu, komputer, apalagi software-software canggih yang menyertainya, masih relatif barang ajaib baru yang tidak bisa mereka pakai setiap saat. Wah, beginilah potret pendidikan di Indonesia: SD itu letaknya hanya di belakang Ma Chung. Kalau kita lompat galah dari gedung Student Center, kita akan sampai ke jalan yang membawa ke SD itu. Dengan jarak yang hanya sedekat itu, ternyata kesenjangannya begitu besar. Semoga ini membuka mata para mahasiswa saya itu akan kondisi bangsanya. Kelak kalau mereka lulus dengan segenap kepakarannya, semoga mereka masih ingat momen bakti sosial ini dan sadar betapa masih ada rekan-rekan sebangsanya yang masih memerlukan sentuhan tangan dan hati mereka sebagai sarjana lulusan Ma Chung.

Demikianlah saya membimbing para mentee saya dengan semangat Tut Wuri Handayani. Saya hadir sebagai pembimbing, pemberi panduan umum, pengarah, dan penyebar dukungan mental dari belakang, tapi selanjutnya terserah semua mentee saya. Merekalah yang harus bergerak, berupaya, bekerja sama, bergerak cepat dan bertindak menuntaskan program, mulai dari proposal sampai laporan. Saya gembira sekali melihat setidaknya cara itu telah saya rasakan buahnya di program bakti sosial di SD kecil itu. Saya hanya berharap semoga momen itu tetap melekat di hati dan pikiran para mentee saya. Tahukah mereka bahwa sepuluh tahun yang lalu SD itu berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, becek, banjir, atapnya jebol? Hanya dengan keteguhan dan kerja keras seorang Bu Sunarmi—Kepala Sekolahnya—SD itu akhirnya bisa menjadi sedikit lebih baik. Saya harap yang ini juga menjadi pelajaran untuk semua mentee Curcuminoid.

Hari itu mestinya berakhir baik: semua lega karena satu tahapan tugas yang cukup menantang telah selesai. Semoga momen itu bukan hanya angin lewat di mata mereka. Mereka bukan hanya sudah berhasil menyelesaikan tugasnya, tapi yang lebih manis adalah bahwa mereka telah melakukan hal yang memperkaya satu komunitas kecil di sebuah SD sederhana di satu sudut kabupaten ini.

Saya ulangi apa yang saya katakan di atas: saya memang tidak tahu banyak cara memimpin sebagai mentor, namun keyakinan saya tidak tergoyahkan: bahwa ketika mentee-mentee saya itu menjalani sendiri bagaimana berbuat baik untuk manusia lain, pada saat itulah mereka menjadi lebih dewasa, lebih sadar akan peran dan keberadaannya sebagai insan terdidik, dan lebih tahu bagaimana menyikapi hidup ini.

Posted in: Uncategorized