Mikael versus Lucifer

Posted on May 19, 2010

1


oleh Patrisius.

“Minum?” Lucifer menawarkan segelas es jeruk kepada Mikael. Mikael menolak dengan halus. “Sial,”batin si Lucifer, “tahu aja dia kalau minuman ini sudah aku bubuhi racun arsenik”.

Demikianlah. Setelah lelah bertempur habis-habisan, kedua malaikat itu memutuskan untuk gencatan senjata. Lucifer, sang Malaikat Kejahatan, dan musuh besarnya, Mikael, sang Malaikat Kebaikan, duduk satu meja, beristirahat di sebuah kafe.

“Ternyata kamu bisa lelah juga ya memperjuangkan kejahatan,” sindir Mikael melihat Lusifer mengganyang tahu menjes.

“Memangnya kamu tidak capek?” balas Lucifer. “Kalau tidak capek, mestinya kamu terus berjuang di atas sana, mendorong orang untuk berbuat baik. Lebih gampang, kan? Mumpung aku ada disini, khi khi khi!”

Mikael mendengus. “Ya kita sama-sama lelah. Berjuang untuk kebaikan dan mendorong manusia untuk selalu mengikuti sisi gelap bukan perkara mudah, kan?”

“Yah, harus kuakui itu,” jawab Lucifer. “Setiap ada komunitas baru, aku selalu merasa bisa mendorong semua manusianya untuk berbuat jahat dan beritikad bangsat, tapi kau selalu ada disitu untuk menyalakan cinta kasih di hati mereka. Kamu tahu, di komunitas perguruan silat Mak Creb itu, aku merasa sudah berjaya di awalnya. Eh, ternyata mereka bikin progam CB (Cah Bagus) yang membuat semua insan mudanya menjadi manusia yang berkarakter baik dan penuh cinta kasih!”

Mikael tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Yah, perguruan silat Mak Creb itu dipimpin oleh titisan Dewi Shinta, yang memang dia utus untuk membentuk murid-muridnya menjadi manusia welas asih dan jauh dari nafsu angkara murka.

“Yah, itu memang taktikku,” katanya blak-blakan. “Walaupun sebenarnya aku berjuang juga setengah mati untuk itu, karena kau selalu siap muncul dari relung gelap di hati mereka untuk mengacaukan rencana kasihNya. Sudah tenang, eh, malah kau bikin api permusuhan antar sesama suhu silat; bahkan suhu yang dulunya disukai kamu bikin sibuk terus sampai semua muridnya ketakutan dan menjauhi dia. Kau benar-benar licin, taktis, dan entah bagaimana caramu bersembunyi di dalam jiwa dan pikiran mereka.”

“Kau memang hebat dalam mendorong mereka berbuat baik, tapi kau tak kan bisa mengetahui taktikku, apalagi tempat sembunyiku,” Lucifer balas tersenyum bangga. “Sudahlah, Mikael, kalau boleh aku sarankan, lebih baik kamu berhenti berjuang demi kebaikan. Pada dasarnya semua manusia adalah gelap, dan mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi pengikutku!”.

“Dasar ular!” umpat Mikael dalam hati.

“Hmh. . . sok yakinnya kau akan hal itu!” balasnya. “Lihat saja, melalui program CB (Cah Bagus) itu, mereka akan lulus sebagai manusia berakal budi baik dan berkarakter luhur. Memang lebih mudah mengikuti jalan gelapmu, tapi mereka sudah semakin diyakinkan bahwa lebih nyaman mengikuti cahaya terang kasih Nya!”

“Tidak semudah itu!” sahut Lucifer cepat. “Kamu lupa bahwa mereka adalah generasi instan, maunya serba cepat dan enak, dan tidak ada jalan yang lebih mudah untuk mencapai hal itu daripada jalan kegelapan yang aku tawarkan!”

Mikael terdiam. Tiba-tiba terbayang wajah Lucifer di semua perangkat silat yang begitu asyiknya didekap dan dibelai-belai oleh para murid Mak Creb: ada BB (Batu Bata), ada laptop (Puncak Pangkuan), ada Pesbuk (Pesan Gedebuk), ada tembok RR-on (Roro Rusak). . .

Senyum Lucifer mengembang melihat lawannya seperti kalah omong. Tapi senyumnya langsung membeku ketika Mikael tiba-tiba tersenyum lebar seolah menemukan gagasan cemerlang.

“Oh, begitu ya? katanya manggut-manggut. “Terima kasih, Lucifer, sekarang aku bisa menebak dimana kamu bersembunyi. A-haaaa!”

Sekarang Lucifer yang terdiam. “Monyet monyong!” umpatnya dalam hati. “Kena aku!”

Suasana hening. . . .

Tiba-tiba tubuh kedua makhluk adi itu menegang. Lalu, secepat kilat Lucifer mencabut pedangnya dan menebas wajah Mikael. Bless!! terkoyak pelipis sang Malaikat Putih itu karena dia masih sempat mengelak. Mikael mendorong badannya ke lantai, jatuh mak gedubrak bersama kursinya sementara pedang Lucifer luput menyambar angin. Mikael bersalto ke belakang, dan dengan kecepatan sejuta kali melebihi kilat, dia sudah berdiri lagi, mencabut pedangnya dan menyabetkannya ke leher Lucifer. Crezzsss!! Leher Lucifer terbelah, darahnya muncrat dan kepalanya ding ding ding menggelinding ke lantai disambut pekik ngeri bin histeris dari pengunjung kafe yang lain.

Sebagian pengunjung mencoba menolong Lucifer dengan membopong kepalanya kembali ke tubuhnya. Tapi tiba-tiba kepala sang Raja Setan itu menghardik mereka: “Berhenti, goblok! Jangan lakukan itu! Dasar kalian semua manusia berbudi baik sialan! Ayo letakkan kepalaku lagi!!”, kemudian matanya memandang ke atas melihat Sang Mikael yang sudah melesat terbang ke langit, siap-siap meneruskan perjuangan melawan kebatilan. “Sekali ini kau menang, Mikael!!” serunya. “Tapi tunggu, lain kali aku pasti balas! Aku raja setan, dan setan tidak pernah mati. Kutunggu kau di medan tempur delapan milyar nyawa manusia. Pertempuran kita akan abadi, HA HA HA HA HAAA!!”

Catatan:

Dalam mitologi Kristiani, Lucifer adalah Malaikat Kejahatan, dan Mikael adalah Malaikat Kebaikan.

Tahu menjes = . . . . hmm, memang ada ya kafe yang jualan tahu menjes?? >.<

Cah Bagus = bs. Jawa, artinya "Anak Baik".

Ilustrasi oleh Shavitri Cecillia Harsono, murid saya di Inggris 2008, Ma Chung.

Posted in: Uncategorized