The Power of Curhat

Posted on May 15, 2010

1


oleh Patrisius

Sebagai seseorang yang tidak ramah dan tidak menyenangkan, seingat saya, saya hanya dua kali mendapat curhat dari dua orang mahasiswa. Tapi itu sudah cukup untuk menginspirasi saya menulis posting ini. Intinya simpel saja: pada saat tertentu dalam kehidupan ini, orang perlu menumpahkan semua uneg-unegnya kepada manusia lain. Sudah jangan nyebut lagi blog atau FB semacam itu, karena secanggih apapun barang digital itu tidak bisa menandingi empati yang dipancarkan oleh suatu makhluk berjiwa dan berdaging yang bernama manusia.

Tersebutlah si A, seorang mahasiswa, yang hidupnya boleh dikata tidak bahagia. Ketika masuk lembaga ini, dia senang karena ada yang namanya mentor, yang –menurut promosinya—akan mendampinginya untuk melalui suka duka dalam masa-masa perkuliahan. Tapi apa lacur, ternyata setelah jalan satu semester, si mentor makin lama makin menjauh. Jangankan mau diajak curhat, datang ke sesi mentoring saja sering telat, sering absen, datang paling mengecek presensi terus geblas entah kemana. Yang kelihatan hanya botaknya saja yang makin mengkilap berkelebat dari satu gedung ke gedung lain. Sibuk, sibuk, sibuk, demikian alasannya selalu. Mau ke dosen PA? Halah, iki maneh. Dia bahkan nyaris tidak pernah bicara dengan dosen PA nya kecuali waktu KRS an.

Sementara itu problem pribadinya makin tak tertanggungkan. Konflik dengan keluarga, tuntutan yang rasanya terlalu tinggi, keteteran di kuliah, disiriki dosen, dijauhi teman, belum lagi masalah finansial dan patah hati ditinggal pergi begitu saja. Si A mulai merasa depresi . . .

Sampai akhirnya bertemulah dia dengan seorang dosen yang sungguh tidak biasa. Dosen ini menyapanya, menanyakan kenapa dia sering absen dan sering kelihatan murung. Lalu diajaknya masuk ke ruangannya. Dan mendadak si A merasa mendapatkan penyaluran untuk melampiaskan semua rasa sakitnya. Tumpah ruahlah segala curhatnya. Mengalir dan menerobos keluar begitu saja, diiringi ungkapan rasa sakit, kecewa, marah, dendam, dan frustrasi. Sedemikian hebatnya curahan itu keluar, dan makin menjadi-jadi melihat sang dosen dengan sangat perhatian mendengarkan semua tumpahan hatinya. Akhirnya di puncak rasa pelampiasannya, si A menangis, menangis, menangis dan menangis, tersedu-sedu, air matanya tumpah baik air bah. Sang dosen memandangnya dengan iba, menggenggam dan mengusap tangannya . . .

“Saya tidak minta bantuan dana, karena saya tahu Ibu juga bukan orang kaya,” kata si A ditengah derai tangisnya. “Saya juga tidak minta nilai bagus, perhatian ekstra atau bahkan tips untuk menarik jejaka. Saya hanya minta didengarkan. Dan Ibu mau mendengarkan dengan sabar. Saya tidak mengira di tengah orang sekian banyak, begitu sulitnya mencari orang yang mau mendengarkan curhat saya. Terima kasih, terima kasih, sudah berkenan mendengarkan saya. Saya memang sedih, tapi saya juga sangat lega bisa mengeluarkan semua ini . . .”

Saya tercekat mendengar kisah itu. Pantas ada ungkapan “kesepian di tengah orang banyak”. Lonely among the crowd. Berapa banyak dari kita merasa seperti ini? Di tengah keramaian dan kesibukan orang-orang yang lalu lalang melintas, kita berharap mbok yaa ada satu saja yang berkenan berhenti dan mendengarkan dengan tulus keluh kesah kita, yang datang tanpa ceramah atau nasihat klise panjang lebar tapi penuh dengan atensi dan empati yang tulus . . . .

Saya kira hampir setiap manusia—kecuali yang super tangguh atau super autis—memerlukan momen-momen curhat ini. Untuk berbagi kesedihan? Bukan hanya kesedihan, tapi ternyata kegembiraan juga. Bayangkan rasanya setelah menikmati pertandingan bola yang seru atau balap mobil yang dahsyat, kita pasti akan sangat senang kalau ada orang dengan minat yang sama mau diajak berbagi momen untuk mengekpresikan kegirangan dan rasa puas setelah event-event seru tersebut. Bayangkan nikmatnya berbagi kesan dan ungkapan kepuasan setelah melalui suatu acara liburan atau kegiatan yang super menyenangkan.

Masalahnya hanya satu: orang yang punya kemauan untuk diajak curhat makin lama makin langka. Semua menjadi persis kayak mentor botak tadi itu: sibuk, sibuk, sibuk mengejar KPI, mengejar target, mengejar IPK, mengejar promosi, mengejar status, mengejar mas dan mbak untuk segera menikah de el el. . .

Catatan:

Kenapa saya menjadi mentor yang tidak ramah dan tidak menyenangkan? Karena setiap kali ada mentee mau curhat, dia baru ngomong satu kalimat saya sudah langsung menderaikan khotbah tentang “kamu harus tetap semangat,” “kamu harus beragama dan percaya Tuhan,” “kamu tidak boleh putus asa dan bosan,” “kamu harus berwatak Pancasila” dan bla bla bla seribu satu macam lagi. Pantas mentee saya nggak ada yang betah curhat sama saya.

Saya tidak bisa menyebutkan nama Ibu Dosen yang sangat baik hati tadi. Kenapa? Kalau saya sebut namanya, dia akan menjadi sangat populer di kalangan mahasiswa. Lha terus kalau dia bikin blog, sangat mungkin blognya melesat jauuh lebih populer ketimbang blog machungaiwo kepunyaan saya. Sebagai orang yang tidak ramah dan tidak menyenangkan, saya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Jadi, ya, maaf saja.

Posted in: Uncategorized