Cinta dan Wanita

Posted on May 13, 2010

5


Kalau sudah suntuk dan jenuh ngurusi Quality Assurance, Pusat Bahasa apalagi mentoring, saya melarikan diri mengambil kelas Cinta dan Seluk-Beluknya. Kali ini saya datang ke seorang rekan, yang bisalah saya sebut mentor dalam bidang ini. Saya mak jegagik muncul di hadapannya, dan langsung mengajukan pertanyaan yang sudah beberapa minggu menghantui pikiran saya: “Kenapa sulit sekali bagi seorang wanita untuk mengatakan good bye kepada pria yang dicintainya?”

“Ya, memang demikian adanya,” jawab si mentor saya itu. “Untuk seorang wanita—wanita baik-baik lho, ya—sangat sulit untuk mengatakan ‘selamat tinggal’ kepada pria yang memang dicintainya, bahkan yang pernah menjalin cinta dengannya. Kenapa? Karena pada dasarnya wanita itu makhluk penyayang. Sekali dia jatuh cinta, sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya atau bahkan tindak-tanduknya yang menyatakan ‘aku sayang sekali padamu’.

Saya terpana, “Oh, tapi yang sudah tidak lagi berhubungan dengannya, masa iya masih sayang?”

“Well, mungkin bukan semata-mata karena dia masih mencintai pria itu, tapi dia enggan melepas rasa cinta pada cinta itu sendiri.”

Saya terdiam. Sedikit bingung. Dan dia membaca kerutan yang tumbuh di wajah saya, maka dia teruskan:

“Seorang wanita sangat menyukai perasaan mencintai dan menyayangi. Lepas dari fakta bahwa orang yang pernah dicintainya sudah lenyap, buat dia tidak mudah membunuh perasaan mencintai itu. Tidak seperti . . . y’know, . . wham-bam-thank you man!”

Saya tersenyum. Saya kenal sekali ungkapan itu. “Ya, ya, saya ngerti maksudmu,” saya manggut-manggut. “Wah, wah, ini baru aku dengar. Menarik sekali. Ternyata wanita bisa seperti itu ya?”

Dia tersenyum sedikit geli mendengar komentar saya yang lugu itu.

“Iya,” dia meneruskan. “Buat wanita, mencintai cinta itu sendiri yang membuatnya tidak pernah bisa mengatakan ‘selamat tinggal’ kepada seorang pria yang pernah menjadi curahan kasihnya. Dia bukan sekedar having fun seperti kalau kau pergi ke pesta; begitu funnya selesai terus geblas lenyap entah kemana. No, not like that!”

Saya terdiam lagi. Tersepona, tapi juga heran.

“Jadi, wanita mencintai cinta itu sendiri, bahkan mungkin lebih dari dirinya sendiri. Itu sebabnya dia sulit mengatakan ‘good bye. . .’ “ saya mengulang kalimat itu sepatah demi sepatah, seperti anak SD yang sedang belajar membaca. Melihat itu si mentor saya ini langsung tertawa setengah terpingkal-pingkal.

“Duuuh, man!” katanya disela tawanya. “Coba deh kamu tanya ke wanita manapun yang kau kenal, pasti jawabannya sama.”

“Dan itulah sebabnya!” tiba-tiba nadanya berubah tajam, “jangan pernah sekali-sekali kau permainkan cinta wanita!”

“Lhoh, aku enggak pernah, kok—“ saya mencoba membela diri.

“Iya,” tukasnya cepat. “Tapi kamu tuh pria, dan pria juga punya karakteristik yang berbeda sekali dalam urusan cinta-mencintai ini, yang . . . sedihnya, tidak senantiasa selaras dengan para wanita.”

Saya manggut-manggut lagi. ‘Oh, ternyata buku ‘Men are from Mars and Women from Venus’ itu bukan khayalan rupanya’, saya membatin.

Di tengah perjalanan pulang pun saya masih terpesona dan takjub mengingat penjelasan yang luar biasa itu. Di hati masih tersisa, “masa iya sampe sebegitunya?”, tapi di bagian hati yang lain saya menjadi paham sekarang mengapa cinta menjadi jauh lebih indah di tangan dan hati seorang wanita.

Catatan:

Mak jegagik (bs. Jawa) = muncul begitu saja di hadapan seseorang

Duuh (bs. Inggris) = kurang lebih sama dengan ‘ah, itu kan sudah sangat jelas kelihatan. Kenapa masih heran?’

Nasihat-nasihat sang mentor di atas diterjemahkan dari bahasa Inggris. Versi Inggrisnya—yang saya dengar sendiri dari dia– jauh lebih elok.

Posted in: Uncategorized