Shrapnels

Posted on May 9, 2010

3


by Patrisius

Kocar kacir . . .

Ada proyek wajib yang sedang dikerjakan. Sampai dimana, semua sudah terlalu sibuk atau suntuk untuk memikirkan. Sang mentor yang rupanya menganut prinsip tut wuri handayani pun hanya bisa berharap semoga proyek itu segera selesai. Kalau tidak, alamat dia harus mendampingi semua menteenya tahun depan di paket CB yang sama.

Ada yang sedang bosan. Sang mentor hanya bisa menghibur dan membalas semua curhatnya. Soalnya dia juga bingung sendiri bagaimana menangani mentee yang sedang jenuh atau bosan kuliah. Perasaan, dia dulu tidak pernah bosan ketika harus kuliah.

Ada yang tetap tekun; sudah tidak lagi banyak nulis posting tapi nilai-nilainya plus prestasinya menunjukkan perbaikan. Yah, syukurlah. “If this trend continues and spreads to other mentees, next year I will resign as a mentor and start focusing on my newborn baby,” demikian pikir sang mentor.

Kemarin waktu rapat sang mentor mendengar penghiburan yang bagus dari seorang rekan. “Yah, sekarang aja anak-anak itu mengeluh soal beban kuliah dan bahasa Mandarin segala macam, tapi nanti kalau sudah melamar kerja atau mau dapat promosi di kantornya, baru terasa betapa pentingnya semua yang didapat (dan mereka prenguti) di kuliah dulu”.

“Dan baru tergopoh-gopoh les bahasa Tionghoa atau kursus TOEFL” , simpul sang mentor.

Yah, begitulah. . . . Life must go on, somehow. Jia you!

Catatan:

Shrapnels = pecahan granat; posting ini ibarat pecahan granat; tersembur dari kebosanan, perasaan jenuh atau geram yang mampat sekian lama.

Newborn baby= Pusat Pelatihan Bahasa, unit baru di Univ. Ma Chung yang dipercayakan kepada sang mentor untuk dikelola.

Posted in: Uncategorized