GET MARRIED!

Posted on May 9, 2010

3


Get married and . . . . get pecked!

oleh Patrisius (sambungan dari http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=390158986035#!/note.php?note_id=390158986035 )

Ingin tahu seperti apa warna asli sang pacar yang sudah menjalin hubungan lama dengan Anda? Ingin tahu bagaimana dia kalau suasana hatinya sedang muram? Akankah dia masih serba menahan diri seperti sekarang? Atau dia ternyata sangat spontan, mudah meledak, atau memang orang yang benar-benar sabar, lebih banyak mengalah kalau itu untuk pasangan hidupnya? Mau tahu? Get married!

Ketika hubungan pacaran dipuncaki dengan perkawinan, kemudian pesta nikah sudah berakhir dan semua kembali ke kehidupan sehari-hari, sang pasangan pun kembali menjadi dia apa adanya. Makin lama makin tampak warna aslinya. Apakah dia seorang yang erratic? Atau seorang yang benar-benar gorgeous? Get married, and you’d find the answer!

Banyak orang bilang di hare gene menjadi single makin menjadi tren. Single but happy. Mending sendirian, enak gak ada yang harus dikasih makan, gak ada yang ngomel-ngomel kalau kita lagi asyik dengan hobi kita. Tapi toh orang yang mau nikah juga gak kurang-kurang. Lho kok bisa? Ingin tahu kenapa toh masih banyak orang yang mendambakan hidup pernikahan? Ya itu tadi jawabannya: get married!

Ketika sudah get married dan menjalani hidup pernikahan, baru terasa enak juga ada yang ngopeni, ada yang memperhatikan kesehatan kita, ada yang mau dengan senang hati membelikan sebuah kemeja baru, atau sepatu fitness baru, atau diam-diam menabung untuk bisa beli kalung atau gelang emas buat kita. Ooh, so sweet! Kalau kita pas suntuk dan capek habis ngurus kantor, ada yang bisa diajak bicara, curhat, ngerasani ngalor ngidul atasan bawahan sampingan, melampiaskan rasa jengkel atau gregetan yang gak mungkin bisa diletupkan di kantor. Apalagi kalau curhatnya di tempat tidur kemudian ditutup dengan ritual api unggun di tengah hutan, . . . Mau tahu rasanya? Get married!

Mau tahu rasanya menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab, menjadi role-model bagi generasi lebih muda? Sekali lagi: get married! Setelah sekitar 300 an hari hidup dalam pernikahan, biasanya akan bersemi benih-benih generasi penerus, yang kemudian lahir menjadi bayi-bayi, dan kemudian menjadi anak-anak, yang tumbuh makin lama makin besar. Si anak tidak punya figur lain kecuali kita, ayah ibunya, untuk ditiru, dikagumi, dan diteladani. Bukankah luar biasa rasanya menjadi seseorang seperti itu? Dirindukan kehadirannya, didengarkan, sekali-sekali dirasani atau diprotes, tapi senantiasa selalu disayangi? Itu anak-anak kita. Mau tahu bagaimana membuatnya? Get married!

Seorang duda tua tahu bahwa saatnya sudah dekat. Sebelum jatuh sakit dan akhirnya meninggal, dia memesan sebuah kavling makam persis di sebelah makam istrinya. Pria duda lainnya bahkan lebih dahsyat: dia minta supaya peti matinya kelak ditumpangkan di atas peti mati di makam istrinya. “Saya sudah membina hidup bersama istriku sekian puluh tahun lamanya; kami bersama-sama mengarungi pahit getir dan manisnya kehidupan; kami juga pernah bertengkar hebat dan bahkan berkonflik panjang, tapi ya hanya dia lah yang mendampingi saya melalui masa-masa itu. Maka, jika sudah matipun, saya tetap ingin bersamanya”. Adduh, . . . so sweet, so faithful, so jlebbzz! Mau tahu rasanya menjadi seperti mereka? Get married!

Catatan:

Posting ini didedikasikan untuk rekan-rekan yang baru saja menikah, dan untuk dua orang rekan yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya. Semoga semua acara pernikahan berjalan lancar dan selamat, serta semoga Tuhan memberkati dan memelihara hidup perkawinan Anda sekalian. Amen to that!

Ngopeni (bhs. Jawa) = merawat

Menyalakan api unggun di tengah hutan = ungkapan kiasan untuk ‘making love’. Saya dapat dari sebuah novel, judulnya embuh wis lali, tapi yang jelas ungkapan itu kena sekali.

Posted in: Uncategorized