Wayang dan Orang Muda

Posted on April 23, 2010

1


oleh PID

Kadang-kadang saya geli sekaligus heran mendengar keluhan orang-orang pecinta seni klasik budaya Jawa tentang apresiasi generasi muda sekarang tehadap kesenian itu. Sebut saja wayang kulit, wayang orang, ngremo dan sejenisnya. “Anak muda sekarang sudah tidak mau lagi menghargai wayang! Padahal begitu banyak nilai luhur di dalamnya.”

Oh, puh-leaaazeee. Wake up, grannies! Ini jamannya sudah beda. Kalau dulu komunitas fisik masih begitu guyub dengan batasan sosio-psikologis yang jelas, dan interaksi antar warga dunia belum seintens sekarang, bisa dimengerti mengapa wayang bisa begitu mempesona. Tapi sekarang? Komunitas cyber. Interaksi global. Budaya pop. Kesadaran kolektif warga dunia. Pasar bebas. Neo liberalisme. Dunia pencitraan. Percepatan teknologi komunikasi. Di mana posisi wayang di jaman serba mencengangkan seperti ini? Ternyata ya tetap saja; layar dibeber, oncor ditancap, dan sang dalang menguntai kisah dengan bahasa Jawa yang kadang sulit dimengerti, disela alunan sinden, dan pertunjukan pun bergulir semalam suntuk sampai subuh. Dengan gaya tradisional yang alon-alon dan monoton semacam ini (kalau nggak bisa disebut stagnan) lha ya pantas saja sulit memikat generasi muda sekarang yang sudah besar-besaran meredefinisi arti hiburan, pertemanan, bahkan sampai komunikasi!

“Ya begitulah anak muda sekarang,” sesal seorang tua. “Sudah tidak mau lagi bersabar, merenung sedikit menggali makna di balik cerita-cerita wayang itu.”

Lha ya siapa to yang mau duduk manis menggali makna di balik jalinan cerita dan aksi panggung wayang yang datar, alon-alon, nyaris tanpa greget, sementara di luaran ada hiburan tiga dimensi dengan plot yang sarat dengan kreativitas, kejutan, humor, tragedi dan misteri?

Panggung wayang orang dan wayang kulit makin sepi.

Yang diperlukan adalah sedikit kerelaan dan keberanian untuk mengubah kemasan, teknik penyajian, dan mungkin juga tema wayang sehingga menjadi selaras dengan selera kaum muda dengan segala aspirasi atau pergulatan hidupnya di jaman ini.

“Wah, gak bisa itu. Menyalahi pakem wayang itu namanya,” protes orang tua tadi.

Wah, ya repot juga ya, Mbah. Nilai-nilai wayang yang memang luhur harus siap terkubur di kuburan yang kalah budaya hanya karena tidak mau berubah, tidak mau sedikit lebih kreatif, ogah dinamis. Sayang sekali.

Posted in: Uncategorized