Membuat Dirimu Setajam Pisau

Posted on April 17, 2010

0


oleh Patrisius

Dalam suatu lembaga atau perusahaan yang mulai ancang-ancang untuk mengurangi karyawannya (karena banyak yang malas, atau berkarakter sulit, maunya konflik terus dengan rekan, atau karena pelanggannya habis), perlu kiat untuk tetap survive. Siapa sih mau atau suka di PHK?
Kuncinya pada ungkapan sederhana: “make yourself indispensable (buat diri Anda menjadi tidak tergantikan/terbuang)”. Mudah dikatakan, agak sulit dilakukan. Tapi intinya adalah membekali diri dengan sebanyak mungkin kecakapan, dan secara nyata menyumbangkan kecakapan, pengalaman, dan kepribadiannya untuk memecahkan masalah dan membawa perbaikan.

Salah satu caranya adalah studi lanjut, meraih gelar Master atau Doktor. Semakin tinggi gelar, semakin “indispensable” seseorang, karena gelar tinggi umumnya juga diikuti oleh kecakapan baru yang berguna bagi perusahaan. Setidaknya, kalau pun termasuk Master atau Doktor yag lulus pas-pass an, gelarnya masih bisa dipakai lembaga buat prestise, karena negeri ini masih sangat mengagungkan gelar akademis.

Cara lain adalah memanfaatkan peluang berkembang dengan menerima mandat tugas baru. Seorang pemimpin yang cermat akan perkembangan anak buahnya biasanya tanpa ragu akan mempercayakan tanggung jawab baru di posisi baru. Sikat saja! Perkara Anda harus belajar lagi atau malah belajar sesuatu yang baru, ya itu resiko. Silakan bekerja keras tidak tidur berhari-hari untuk mendalami bidang baru tersebut. Tapi bahwa Anda sudah dipercaya menempati posisi itu, tancap! Jangan lagi ada ragu-ragu. Kalau perlu, selama masih mampu dan bernyali besar, dua posisi sekaligus diembat. Misalnya, tugas menjadi inspektur pengecek kualitas barang, dipadukan dengan tugas menjadi kepala pelatihan. Silakan sutiris (=stress) menangani kedua pos itu , tapi kan sutirisnya jauh lebih sehat daripada sutiris kena PHK.

Karena, semakin tinggi peran Anda di pos-pos penting itu, semakin Anda kelihatan vital di mata perusahaan. Tanpa peran Anda, perusahaan limbung. Karena takut limbung, mereka cenderung mempertahankan Anda sekalipun sedang krisis.

Cara ketiga, sangat mudah dikatakan tapi luar biasa sulitnya dilakukan: berpikir solution-oriented. Selalu berpikir: “ok, masalahnya begini, sekarang apa yang harus saya atau kita lakukan untuk memecahkannya?”.

“Lho, kok sulit?” protes seorang pembaca. “Itu kan mudah saja”.

“Masak??” saya tanya. “Buktinya, hampir di banyak rapat yang membahas masalah-masalah penting, tiga perempat waktu dihabiskan buat ngomel-ngomel, atau curhat, atau saling sindir sana sini mencoba mencari kambing hitam.”

Solution-oriented. Senantiasa berpikir solusi, bukan malah repot melindungi ego (supaya tidak dikritik) atau bengong atau skeptis. Jadi kalau rapat, ngomel dan curhatnya lima menit aja, setelah itu sama-sama mencari solusi.

Maka semoga menjadi orang yang lebih tajam, lebih “mrantasi” (bhs. Jawa, artinya “serba tuntas”)bukan malah “mbundeli” (menghambat) , dan maka membuat diri Anda menjadi indispensable. Maka tancaplah!

Posted in: Uncategorized