Saya Tidak Beragama

Posted on March 29, 2010

0


Suatu ketika saya chatting dengan seorang lao shi. Guru muda ini suka sekali pergi ke gereja. Maka saya tanya, “Kamu Kristen apa?”. Dengan muka tanpa dosa seperti anak kucing, dia menjawab, “Oh, saya tidak punya agama. Saya datang ke gereja karena senang aja merasakan suasananya”.

Saya tidak punya agama!

Jawaban itu sunguh sangat menghenyakkan. Apalagi diucapkan dengan ekspresi lugu seperti itu. Sungguh saya terpana. Dalam hidup saya yang sudah 43 tahun ini, belum pernah saya mendengar jawaban seperti itu ketika bertanya kepada seseorang di negeri ini. Jawabannya selalu “Islam”’ atau “Kristen” ‘ “Katolik”, “Buddha”, “Khong Hu Cu”, atau “Hindu”. Tak pernah seorang pun dengan polosnya mengatakan, “saya tidak beragama”.

Saya sudah banyak menulis posting tentang agama dan/atau Tuhan. Tapi sekarang saya terusik lagi pada satu pertanyaan: bisakah orang beragama tapi tidak berTuhan? Atau, bisakah orang berTuhan tapi tidak beragama?

Memang paling enak adalah menganggap bahwa semua orang—setidaknya di negeri ini—beragama dan berTuhan. Tapi kemudian datang fakta lain yang tak kalah dahsyatnya: ternyata bangsa kita terkenal sebagai salah satu dari bangsa paling korup di dunia. Bangsa kita juga terkenal sebagai bangsa dengan etos kerja yang rendah. Yang lain pada mengejar keunggulan dan maslahat kemanusiaan, kita mengejar posisi, harta, bonus dan jalan pintas, kalau perlu dengan menyikat sesama.

“Loh, itu gak ada hubungannya itu, antara agama dengan budaya, “kata seorang dosen Pancasila dan Kewarganegaraan. “ Agama ya agama, itu urusan privat masing-masing, sementara korupsi dan lain sebagainya yang kau sebutkan itu adalah ranah profan, duniawi, dan harus kau pertimbangkan pula faktor-faktor sosial politik yang melatarbelakanginya”

Benar-benar jawaban paling membingungkan (kalau gak bisa disebut paling tolol) yang pernah saya dengar.
Apakah berarti beragama tidak mengatur tingkah laku manusia di ranah profan?

Saya bayangkan kelanjutan chatting dengan lao shi itu:

“Wah, gimana kamu bisa tenang-tenang saja tanpa agama dan Tuhan?”

“Yah, buktinya hidup saya ya baik-baik aja tuh. Juga, dibandingkan dengan negaramu, negara saya yang semua penduduknya gak beragama itu sedang menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Kemajuan kami luar biasa. Itu ya karena kami punya etos kerja dan kekompakan yang kuat”

“Ya, tapi tetap aja, kamu nggak punya agama. Idih…”

“Memangnya kenapa kalau saya nggak punya agama?”

“Ya, kamu masuk neraka nanti kalau udah mati.”

“Ah, enggak lah. Neraka dan surga itu kan hanya untuk orang beragama yang tidak menjalankan perintah agamanya. Kalau kami nggak beragama, prinsip itu tidak berlaku, dong”.

“Tapi, tapi–blllbb blrr blbbr–”

Sialan, saya kehabisan kata-kata untuk membela diri dan agama . . .

Posted in: Uncategorized