Single but Happy

Posted on March 22, 2010

4


by PID

Sementara rekan-rekan sebayanya sibuk jatuh bangun dalam urusan asmara, si lajang satu ini tenang-tenang saja. Terakhir kali saya ketemu dengan dia, dia barusan putus dengan pacarnya yang sudah hampir 3 tahun menjalin hubungan dengan dia. Itu tiga tahun yang lalu, dan semenjak itu saya belum tahu kabarnya dalam urusan perjodohan. Maka dapat dimengerti ketika saya bertemu lagi dengannya bulan lalu, pertanyaan saya adalah:

“Kamu udah pacaran lagi? Atau mungkin malah sudah married?”

“Belum,” jawabnya enteng, setengah cuek.

“Memang kenapa kalau saya masih single, Pak?” kata dia, setelah dengan jitu membaca ekspresi heran di wajah saya.

“Nggak papa,” jawabku sekenanya. “Hanya, . . . heran aja—“

“Karena gak umum, ya, Pak?” tebaknya, jitu lagi. “Saya kok merasa nggak ada yang salah, hanya semata-mata karena saya belum nikah, sementara teman-teman sudah pacaran, tunangan, bahkan ada yang udah married”.

“Tapi, itu hanya perkara waktu kan? Suatu ketika kamu juga akan seperti mereka kan: pacaran, tunangan, married?”

“Mmmm . . . ya, mungkin juga. May be yes, may be no. Kok kayaknya sekarang saya lebih sibuk ngurusi kerjaan dan hobi saya. Traveling, utak-atik motor saya, bikin blog buat cari duit. Asik aja lah.”

“Jangan-jangan itu pelarian karena kamu belum berhasil menemukan wanita yang pas sama kamu.”

Kali ini saya yang jitu. Mukanya agak memerah, pertanda dia malu ketahuan.

“Ya. . . . matanya menerawang. “Ya, emang sih, dulu sempat down juga waktu gagal cinta sama si C. Terus, daripada sinting karena patah hati, saya mengalihkan perhatian ke hobi dan karir saya. Lama-lama kok ya jadi asyik disini, dan belum sempat meluangkan waktu buat mencari kekasih lagi.”

“Yah, syukurlah,” kata saya. “Itu berarti kamu masih punya niat untuk jatuh cinta sama wanita dan settling down in a marriage.”

“Yah, betul, Pak. Hanya masalah waktu, mungkin. Doakan deh saya cepet dapat yang baru”

“Dan yang cocok!” kata saya tersenyum.

“Amen to that.”

—–
Mantan anak didik kedua yang juga masih single luar biasa sibuknya sampai saya tidak bisa ketemu dan omong-omong. Tapi begitu dia membaca posting blog ini, dia mengirim saya e-mail. Isinya menarik juga. Singkatnya begini:

“Dear Pak, saya baca tulisan Bapak di blog. Judulnya pas sekali: single but happy. That’s me, Pak! Buat saya, saya tidak merasa perlu membina hubungan asmara dengan seorang pria. Untuk apa? Saya sedang dan sudah menikmati kehidupan saya selama ini. Hobi saya banyak. Karena saya orangnya sangat outgoing, semua hobi saya membawa saya pada interaksi dengan banyak orang, dan saya juga suka bepergian, liat daerah-daerah baru, motret, bikin pameran kecil-kecilan. Gaji saya lari semua ke tabungan, dan setelah cukup saya belikan kamera baru atau wisata kuliner ke luar pulau atau ke luar negeri. Lha apa ya bisa seorang pria—yang notabene adalah pacar saya—menerima zona nyaman saya ini? Pasti entar ada banyak batasan: gak boleh ini, gak boleh itu, harus ini , harus itu. Waah, repot! Timbang nyakitin hati pacar dan nyakiti diri saya sendiri, mending saya sendirian aja. Toh, saya happy sekali dengan kondisi ini. Single, but happy!”

Hmm, jadi kesimpulannya, para single punya dua alasan untuk tetap menjadi single: (1) belum ketemu yang pas, dan (2) memang menikmati kesendiriannya, dengan segala hak istimewa yang mungkin sulit didapat oleh seorang yang sudah berpasangan.

Cerita ini belum selesai. Tengah malam, saya terjaga oleh sms beruntun di ponsel. Ternyata dari kedua rekan muda saya itu. Isinya setengahnya memarahi saya: “Pak, kami baru tahu kalau posting ini dipublish di machungaiwo. OMG! Machungaiwo kan untuk mahasiswa-mahasiswa Bapak yang masih sangat belia??! Kalau seusia mereka, sih, malah harus didorong supaya cepat punya pacar. Ayo, Pak, diralat postingnya. Bikin posting baru lagi yang lebih menyemangati adik-adik ini untuk cari pacar di kampus. Kasihan, lho, Pak, kalau nanti jadi terlanjur seperti kami!”

Saya melongo. Terlalu heran dan terlalu ngantuk untuk bisa membalas. . . .

Posted in: Uncategorized