Wanita, Harta dan Cinta (Part 1)

Posted on March 11, 2010

5


by PID

Salah satu topik yang selalu hangat dijadikan perdebatan adalah: kualitas apa dari seorang pria yang memikat wanita?

Jawaban agak nakal tapi juga terkesan realistis adalah: kepribadiannya. Maksudnya? Ya, mobil pribadi, rumah pribadi, kapal pesiar pribadi, perusahaan pribadi, dan macam-macam lagi milik pribadi.

Kaum pria punya beberapa julukan untuk wanita yang menganggap bahwa kualitas utama seorang pria adalah pada kekayaan materinya: “Maneater”, “cewek matre”, “cewek bensin (ini dulu waktu saya masih SMA)” “wanita mata duitan” dan masih ada lagi beberapa.

“Wanita kayak gitu nggak bisa diajak hidup prihatin,” kata seorang pria , “padahal kan ya si pria butuh waktu untuk bisa menjadi mapan. Pertama kan ya mulai dari ngontrak rumah, pake motor, baru bisa nyicil mobil, . . . .”

“Iya, wanita tuh punya prinsip ‘ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang’. Dulu, nih, saya punya kekasih yang sudah nyaris jadi istri. Eh, tau-tau lenyap gak ada kabar beritanya. Begitu kontak lagi, eh, ternyata sudah tunangan sama pengusaha kaya raya. Padahal tampang dan kepribadiannya jauh di bawahku lho! Celaka bener!”

Jadi ingat pemain-pemain bola terkenal macam Ronaldinho atau Ronaldo dari Brasil. Dengan tampang pas-pasan gitu mereka punya pacar/istri cuaaaantik-cantik! “Ya iyalah,” kata seorang rekan saya. “ya pasti mereka ngincar hartanya; coba kalau si Ronaldinho itu hanya penjaga toko. Apa ya mau wanita secantik itu menjadi pacarnya?”

Hmm, saya jadi ingat salah satu episode “Take Him Out” di Indosiar. Waktu itu bintang tamunya seorang pria berprofesi dosen. Eh, begitu si Choky Sihotang mengumumkan profesinya, sontak semua wanita single itu mematikan semua lampunya, pertanda si pria tersebut tidak memenuhi kriteria mereka sebagai pasangan hidup. Alamak, kasihan kali kau, dosen! Saya tersenyum kecut. Soalnya saya sendiri juga dosen (baca: bukan orang kaya raya). Untungnya saya sudah laku lima belas tahun yang lalu . . .

Jadi, bagaimana nih, benarkah wanita itu hanya terpikat oleh harta sang pria? Benarkah buat mereka kesejahteraan materi adalah segalanya?

Hmmm . . . mungkin untuk kali ini jawabannya “IYA”.

Sebentar, saya harus cari ilham lagi (biasanya dibantu sebatang Djarum Super) untuk bisa meneruskan sambungan posting ini .

Posted in: Uncategorized