Menjadi Dewasa

Posted on March 11, 2010

0


by PID

Topik diskusi kami kemarin adalah: apa artinya menjadi dewasa?

Para mentee mengemukakan berbagai jawaban: (1) mampu mengendalikan diri; (2) mampu menyesuaikan diri dengan situasi; (3) bertanggung jawab; (4) tidak egois; (5) tidak mudah mengeluh, berinisiatif; (6) bijaksana; (7) berpola pikir tidak seperti kanak-kanak.

Mana jawaban yang benar?

Semua benar, semua baik.

Lha, so? End of the problem? Belum. Ngomong memang mudah, pelaksanaannya itu yang tidak segampang ngomongnya. Lha iya lah, lha wong waktu melontarkan ide-ide baik dan benar itu ada mentee yang sudah reseh kepingin segera pulang, alasannya mau mendukung tim basket temannya. Sementara yang lain sibuk mikir dan mentornya berceramah, mereka sibuk menggoda teman di sebelahnya. Lha ini kan berarti apa yang dia katakan tidak selaras dengan tindakannya.

Susah memang menjadi dewasa. Tidak seperti monyet: dewasanya diukur dari kematangan organ tubuhnya untuk bereproduksi. Sisanya hanyalah insting cari makan dan bertahan hidup. Untunglah mentee saya bukan monyet (yang sedang menjadi) dewasa. Mereka manusia, lengkap dengan segala kompleksitas kepribadian dan latar belakangnya. Dan karena mereka manusia itulah, saya tidak terlalu cemas dengan kedua monyet, eh, mentee yang berulah tadi. Pengalaman hidup, panduan dari mentor dan orang tua serta lingkungannya, akan membentuk mereka menjadi manusia-manusia yang lebih bisa menempatkan diri, bertanggung jawab, dan tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Posted in: Uncategorized