Prospek Karir Selepas Kawah Ma Chung

Posted on February 27, 2010

2


oleh PID

Seorang mentee dadakan bernama Noel membuka wawasan saya tentang betapa kayanya kemungkinan karir seseorang di masa depan. Noel ini mahasiswa Teknik Informatika, tapi begitu saya minta sarannya tentang kegiatan apa yang tepat untuk Character Building 4 (yang temanya adalah pengabdian masyarakat), tanpa ragu dia menjawab, “penyuluhan tentang bercocok tanam yang baik untuk para petani”.

“Memang kamu bisa?” tanya saya.

“Ya, lumayanlah, Pak, tahu tentang hal itu,” jawabnya.

Lepas dari fakta bahwa jawabannya mengundang heran teman-temannya dan juga saya sendiri, sebenranya anak ini sedang mengatakan bahwa apa yang menanti seorang mahasiswa di ladang kehidupan selepas perguruan tinggi bisa saja tidak terkait sama sekali dengan bidang studi mayornya ketika masih kuliah. Kalau jeli, kita akan banyak mendengar dan membaca lulusan Teknik Kimia yang kemudian kondang menjadi pakar Sumber Daya Manusia, lulusan Manajemen yang berjaya menjadi trainer motivasi, lulusan institut keguruan yang berkiprah sebagai perajin seni dan karyanya terkenal di mata para turis asing, lulusan Akuntansi yang malah jadi terkenal ketika taman bacaannya dijadikan model pengembangan anak usia dini, dan lain sebagainya. Makanya, jangan hanya jualan Kompas untuk membiayai suatu kegiatan. Kalau Kompasnya kurang laris karena sudah banyak yang langganan, coba baca halaman paling belakangnya itu, akan banyak figur yang seperti itu.

Logika hidup memang tidak selalu linier dan ter-ramalkan (predictable): kuliah di jurusan Teknik Informatika, setelah lulus melamar jadi perancang web, lalu studi S2 di bidang yang sama, lalu naik jabatan jadi System Analyst, kerja terus sampai pensiun, setelah itu mati. Yang seperti ini juga ada. Tapi yang kemudian berkarya di lahan lain dan memanfaatkan talenta dan minatnya yang selama ini tersembunyi, menjadi besar dan terkenal disitu, juga banyak.

Intinya sederhana: ketika masih kuliah, sebaiknya tidak mengabaikan bakat dan talenta dan minat pribadi. Selama masih kuliah, jangan segan mengasah mutiara terpendam ini. Siapa tahu ketika Anda lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, talenta inilah yang kemudian Anda gosok sampai mengkilap dan menarik perhatian dunia luar. Ketika mantan teman sekelas masih sibuk melamar pekerjaan di bidang yang selaras dengan ijazahnya, jangan-jangan Anda sudah menjadi wiraswastawan atau seniman kondang di bakat Anda itu.

Di Prodi Inggris saya sedikit banyak bisa membaui bakat-bakat seperti ini: Shavitri suka sekali menggambar dan membuat komik, Andrew ingin menjadi trainer di bidang motivasi dan spiritualitas, Vania berbakat dalam musik dan suka memasak. Siapa tahu, ketka lulus nanti mereka justru besar dan tumbuh di bidang-bidang tersebut.

Posted in: Uncategorized