Kunci Sukses Ma Chung Menjadi One of the Best

Posted on February 16, 2010

0


Pertama-tama tentu ucapan selamat atas prestasi yang diraih oleh Universitas Ma Chung dalam seleksi Universitas dengan SPMI Terbaik di Indonesia. Ma Chung, pada usianya yang baru menjelang 3 tahun, sekarang telah mendapat predikat sebagai salah satu Universitas dengan SPMI Terbaik di tahun 2009.

Lalu apa makna prestasi ini?

Pertama adalah refleksi tentang apa yang memampukan kita semua untuk meraih prestasi itu. Yang jelas adalah apa yang disebut sebagai calculated risk-taking: masih segar dalam ingatan bagaimana semua pimpinan di tingkat Universitas, Prodi dan Direktorat berkumpul bersama di Meeting Room dan dengan semangat agak nekad mengatakan “ya” untuk semua item di formulir SPMI.

Kedua adalah tekad bulat untuk membuktikan bahwa apa yang kita nyatakan sebagai “ya” memang benar kita miliki. Begitu pengumuman dari Dikti bahwa Universitas Ma Chung dinyatakan lolos dalam tahap pertama dan berhak maju ke verifikasi dokumen, semua Ma Chungers bergegas menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Karena sudah nekad bilang”ya, kami punya” ketika mengisi formulir SPMI tersebut, sekarang lah saatnya membuktikan bahwa semua dokumen tersebut memang ada. Perkara kondisinya masih serba darurat atau bahkan hanya draft kasar, ya tidak mengapa. Saya ingat ada salah satu Prodi yang menyerahkan Kompetensi Lulusan berupa ketikan satu lembar A4, padahal yang saya harapkan adalah Kompetensi Lulusan yang sangat lengkap mulai dari nama Prodi sampai peta kurikulumnya yang setidaknya bisa sampai 20 an halaman!

Tapi ya begitulah. Sekali sudah bilang “ya, kami punya”, maka tidak ada lagi kata mundur.

Ketiga adalah kolaborasi antar unit. Begitu menerima permintaan dokumen atau data dari salah satu unit, unit yang diminta sebisa mungkin dan secepat mungkin mengupayakan dokumen tersebut. No hassle, no argument, no eker-ekeran. Saya masih ingat bagaimana Pak Daniel Pandapotan menyediakan data perpustakaan dalam satu USB, dan bagaimana Mbak Mira dan Mbak Anis mengangkut folder-folder sa’ dhebok (= segede pohon pisang) dari kantornya ke Meeting Room di Rektorat.

Keempat adalah simulasi. Malam sebelum berangkat keesokan harinya, saya, Pak Yufra, Prita dan Mbak Vera melakukan simulasi di Meeting Room. Setiap pertanyaan yang saya lontarkan dari formulir SPMI, kami berusaha menjawab dan menemukan dokumennya. Kalau ada poin yang ternyata tidak bisa ditemukan dokumennya, kami pikirkan bagaimana menjawabnya setaktis mungkin.

Kelima, hal kecil namun penting: melabeli setiap folder dengan nama-nama dokumen yang akan ditanyakan oleh asesor. ‘Devil lies in the details’, ini yang saya percaya. Betapapun hebat semangat nekad dan kerja samanya, kalau begitu ditanya kami malah kelabakan mencari-cari dokumen karena labelnya tidak jelas, bisa kacau balau.

Keenam adalah semangat do not stop till your last drop: hari terakhir sebelum berangkat, tiga staf kunci, yaitu WR I, Mbak Vera dan Prita menyiapkan semua dokumen sampai jauh malam. Pagi harinya, mereka masih melakukan persiapan akhir di kampus, sampai rela makan siang di dalam mobil yang membawa kami ke Surabaya untuk melakukan verifikasi dokumen di hadapan asesor SPMI.

Ketujuh adalah citra. Memang hanya tampilan tapi ini juga ikut menentukan: kami datang ke hotel mengusung 4 koper besar, berjas Ma Chung, plus foto-foto yang menampilkan fasilitas Ma Chung yang memang mewah.

Semua itu terbayar sudah.

Satu tonggak telah diraih, berikutnya adalah tonggak lebih tinggi, yakni status Akreditasi. Bagaimana kami harus menyiapkan diri untuk melewati tonggak ini? Sederhana. Lihat saja ketujuh kunci sukses yang sudah saya tulis di atas.

Selamat berjuang! Semoga sukses! Go Ma Chung gooo!!

Posted in: Uncategorized