Selepas Wisuda

Posted on February 6, 2010

5


oleh Patrisius Istiarto Djiwandono

Setiap kali saya menyaksikan acara wisuda, hati serasa tergetar. Bukan, bukan karena terharu, tapi lebih karena khawatir: wisudawan sebanyak ini, mau kemana setelah lulus perguruan tinggi?

14 juta pengangguran, 4 jutanya pengangguran intelektual . . . and growing. Growing?? Hah!

Kewirausahaan. “Ya, kita buka usaha sendiri, dong!” kilah mereka. Easier said than done. Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Lha wong waktu kuliah aja maunya serba instan, males nyatat, males mikir, mending copy paste saja dari wikipedia, lha kok sekarang berkoar mau wiraswasta??!! Dipikirnya ngurus ijin usaha, menciptakan visi dan misi, merekrut karyawan sesuai profil, menentukan SWOT, mencari peluang pasar, brand image, sampai ‘berkompromi’ dengan pejabat atau preman pasar atau jalanan adalah barang gampang?

Jadi karyawan perusahaan. Ditanya apa fasih berbicara Bahasa Inggris dan Mandarin? Wah, langsung diam.” Lha gimana, ya, Pak, waktu kuliah dulu matkuliah Bahasa Inggris dan Bahasa Tionghoa saya pisuh-pisuhi di facebook saking sukarnya . . .boro-boro bisa ngomong atau nulis; paling ya saya bisa ya “wo ai ni”, “wo bu zhi dao”, “I love you” dan “fuck you” aja, Pak”.

Beruntunglah mereka yang sudah punya visi sejak masih kuliah. Lebih beruntung lagi mereka yang sudah siap dengan segala tantangan sulitnya masa depan. Gak kakehan ngomong, ngocol atau demo, entah di jalan atau di FB, yang penting menempa bakat, otak dan kemampuan, plus sedikit pengalaman mengelola orang lain di organisasi kampus. Waktu ijazah sudah di tangan, yang penting bukan hura-huranya dulu, tapi tak segan menimba pengalaman bahkan lewat pekerjaan-pekerjaan yang sekilas gak bergengsi blas: jadi SPG (kenapa tidak?), freelance, part-timer, guru les keliling, dan setapak demi setapak, pelan namun pasti membuktikan kepada the so-called ‘majikan’ bahwa dia memang mampu, cekatan, tuntas, bertanggung jawab dan loyal.

Berbahagialah yang punya nalar jernih: kalau sudah tahu bahwa yang dilihat pertama oleh ‘majikan’ adalah IP, ya belajar keras toh, supaya nilainya bagus? Kalau sudah sadar bahwa nyontek dan nyogok dosen hanya melemahkan karakter, ya usaha sendiri toh? Belajar keras, mandiri, nilai bagus, sudah satu bekal untuk membuat sang calon ‘majikan’ terkesan. Peluang kerja pun terbuka.

Selamat berwisuda!

Posted in: Uncategorized