Pluralisme di Indonesia: Madu atau Racun?

Posted on January 16, 2010

0


by Patrisius

“Saya ini orang Indonesia”

“Eh, tunggu dulu. Indonesia jenis yang mana? Etnis Jawakah? Atau Madura? Atau apa? Ras apa? Kalau Tionghoa, yang Tionghoa babah atau totok? Kalau ‘Indonesia asli’, agamamu apa? Kalau Kristen, gereja yang mana? Adven? Bethany? Kalau Islam, kamu NU atau Muhammadiyah, atau jangan-jangan Ahmadiyah?”

“Ya, saya orang Indonesia aja lah . . . kelas menengah–”

“Lho, kelas menengah yang mana? Kaum intelektual, atau pengusaha? Politikus, atau orang baik-baik? Dari daerah pinggiran, atau orang kota, atau dari gunung? Kamu kelas yang suka mejeng di mall dan hotel, atau yang senang di kelompok-kelompok sosial masyarakat, atau yang mana?”

Indonesia, bukan hanya gemah ripah loh jinawi dari segi sumber alamnya, namun juga dari kemajemukan penduduknya. Kita adalah bangsa dengan predikat raksasa sosiolinguistik, karena begitu beragamnya bahasa di Nusantara ini. Tapi kita juga sangat plural dari segi ras, etnis, agama (termasuk juga yang atheis), status sosial ekonomi dan masih banyak lagi. Coba pergi ke mall, atau nyetir dah di jalan-jalan. Kita akan bertemu dengan manusia seribu satu macam: yang berjilbab, yang ber hot pants atau bertank top, yang kuning, sipit, berambut lurus, yang taat aturan lalu lintas, yang nyetir bak orang kesurupan, yang berdemo, yang apatis, yang narsis, yang ber BB (Blackberry dan Bau Badan, karena biasanya orang kayak gini jarang mandi, BB an terus) berambut kriting, kulit coklat, mata lebar . . . masih banyak lagi. Itu baru kulit luarnya saja. Belum isi hati dan pikirannya . .

Karena pluralisme sudah menjadi bagian hidup kita, mestinya kita ini juga punya sikap toleransi tinggi. Melihat begitu banyak keragaman, mestinya kita mensyukurinya, karena bukankah keragaman itu bagian agung dari kehendakNya? Bukankah keragaman itu membuat kita juga lebih kaya dari segi budaya dan pandangan hidup, semua saling mengisi satu sama lain?

Atau jangan-jangan those diverse features fuel our desire to destroy each other? (maaf, hrs dalam B Inggris karena bagian terakhir itu sensitif sekali).

Terserah Anda . . .

P.S. Bapak Pluralisme kita, Gus Dur, sudah pergi. Saya hanya bisa berharap semoga semangatnya tidak pernah mati di negeri ini.

Posted in: Uncategorized