Hubunganku dengan Seorang Mahasiswi

Posted on December 22, 2009

3


by PID

Mulanya biasa saja. Saya mengajar, dan dia belajar. Saya dosen, dia mahasiswi saya.

Sampai pada suatu ketika, saya dibuat tercengang melihat hasil kerjanya. Sementara paper teman-temannya sudah masuk angin karena saya corat-coret dengan pena menandai kesalahan-kesalahan, paper dia bersih. Sulit sekali menemukan kesalahan di hasil kerja wanita muda ini.

Pas saat itu ada proyek terjemahan dari sebuah perusahaan besar. Jumlahnya membuat saya mabok. Tidak mungkin saya menyelesaikannya dalam tenggat yang mereka minta. Tanpa pikir panjang, saya panggil si mahasiswi itu setelah kuliah usai. Saya minta dia membantu menerjemahkan proyek itu. Dia menyanggupi. Dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Saya puas, dan tak segan memberinya insentif finansial.

Proyek seperti itu datang beberapa kali, dan insentif yang tadinya hanya sekian puluh ribu, menjadi makin besar, karena jumlah terjemahan yang saya percayakan kepadanya juga makin banyak. Terakhir kali dia mendapatkan satu juta lebih sedikit! Not bad for a sophomore!

Saya kemudian menyadari, di tengah-tengah gencarnya gembar-gembor pentingnya interpersonal skills, soft skills, EQ atau sejenisnya, ternyata pengalaman dengan si mahasiswi itu membuktikan bahwa EQ belum bermakna banyak tanpa kecakapan akademis yang menonjol. Saya merekrut dia tanpa pikir panjang menjadi asisten penerjemah karena saya kepincut dengan kemampuan akademisnya (khususnya dalam tata bahasa Inggris). Baru belakangan saya lihat dia juga bukan aktivis kampus, dan bukan yang tergolong aktif atau penuh inisiatif dalam kegiatan mahasiswa. Ya, enggak mengapa, karena yang saya perlukan dalam proyek – proyek besar tadi memang bukan itu, tapi kemampuannya yang memang prima dalam menerjemahkan secara cepat dan relatif cermat (ya, memang sih saya masih perlu betulin sedikit disana-sini, tapi selebihnya sudah sangat bagus).

Kemampuan interpersonal memang menjadi semakin penting di jaman sekarang, tapi alangkah bijaknya seseorang yang tidak pernah kehilangan fokus pada keseimbangan, sekali lagi, KESEIMBANGAN antara kecakapan tersebut dengan kecakapan akademis. Suka tidak suka, ketika terjun ke lapangan pekerjaan (disebut “lapangan” karena memang sekian juta lulusan perguruan tinggi mengantri di lapangan untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan), kemampuan akademis lah yang pertama kali memikat sang employer. Kecakapan soft skills bisa ditempa dan diasah dalam dunia kerja.

Posted in: Uncategorized