Suksma, Bali! (Catatan Study Tour 2009 Prodi Inggris)

Posted on November 29, 2009

1


Study Tour 2009 dengan anak-anak angkatan 2009 tidak sememikat Study Tour 2008 dengan anak-anak 2007 dan 2008. Saya cuek, angkatan 2009 pun cuek. Biarlah, karena sekarang saya lagi ingin menulis tentang Bali, tujuan Study Tour kami kali ini.

Bali. Tidak berlebihan kalau orang dari berbagai negara terpikat pada pulau ini. Mistis, eksotis, sedikit introvert, dan dianugerahi talenta seni yang bahkan tidak tercapai di alam mimpi saya yang paling liar. Sepanjang jalan, saya banyak mendapat pencerahan dari Bli Wayan, sang guide kami yang setia menemani perjalanan dengan ceritanya tentang sejarah dan adat istiadat Bali. Sambil mendengarkan, mata saya terpesona oleh jajaran rumah-rumah di Bali yang kokoh mempertahankan warna budaya dan wujud olah spiritual khas Hindu nya, seolah tidak mau tersapu lenyap oleh budaya globalisasi. Di hampir setiap rumah atau bangunan, selalu ada tempat sesaji plus bangunan tradisional semacam pura. Di dashboard taksi-taksi yang melintas saya menangkap anyaman dari janur yang diisi dengan kembang berbagai warna. Sudah begitu, alamnya pun luar biasa menawan. Di Uluwatu, saya terkagum-kagum oleh konstruksi batu karang dan deburan ombak sekian puluh meter di bawahnya, dilatarbelakangi lautan biru maha luas menyapu cakrawala; I said to myself: “Balinese God’s must be so gifted with extraordinary artistic talent He created this picturesque Bali even before the first Balinese was born.”Bahkan monyet-monyet nakal di Uluwatu itu pun berasa dan berbau Bali . . .

Diukir alam dan didera ombak samudra

Nama-nama anak di Bali ternyata mengandung arti, mulai dari Nengah, Ketut, Ngurah. Nama Bedugul ternyata berasal dari kata “beduk” dan “kul kul”, satu hal yang sedikit banyak juga menyiratkan keterbukaan orang Bali terhadap agama lain (beduk adalah warna khas agama Islam). Dan Tampak Siring berasal dari kata “tapak miring”, yang berakar dari seorang pangeran yang berlari sedemikian kencang sampai telapak kakinya miring. Wow!

Joger adalah toko yang sangat menarik, inspiratif, dan saya benar-benar salut oleh ide brilyan sang kreatornya. Kreasinya unik, sedikit nakal, tapi selalu mengilhami orang untuk berbuat baik kepada Bumi dan seisinya. Sederhana, padat makna dan pesan baik, dan laris manis. Buktinya tokonya penuh sesak. Di toko itu saya dengan suka cita akhirnya memperoleh T-shirt untuk istri saya (soalnya sudah sejak hari kemarinnya saya belum nemu oleh-oleh buat istriku). Foto saya di bawah ini menunjukkan kreasi Joger yang padat makna tadi: tiga patung dengan kata-kata Jamul (Jaga Mulut), Jakup (Jaga Kuping), dan Jadung (Jaga Hidung). Gak usah khotbah panjang lebar, tapi pesannya langsung sampai. Loh kenapa Jamat (Jaga Mata) tidak ada? Ya jelaslah; kalau mata ikut dijaga, lha gimana mau menikmati kreasi visual Pak Joger gendheng iki?? Jamput tenan!

Patung kreatif karya Joger.

Tengah melamun di dekat Exit, telinga saya menangkap gamelan Bali dari CD player yang dimainkan Mbok (di Bali, Mbok = Mbak) penjaganya. Belum pernah saya dengar untaian musik semenawan itu. Alunan rancak, rapi dan membuai dari kombinasi antara gamelan Bali dengan perkusi dan instrumen modern. Saya lihat, namanya Bali Ethnic Lounge, dengan judul mboh kamsud “I Relax Don’t Let’s Do It”, arrangernya I Gusti Sudarsana. Saya pun tak segan merogoh dompet untuk memiliki CD jelek itu (di Joger, kreasi-kreasi bagus itu dilabeli “Jelek” oleh pembuatnya).

Di rumah, saya nulis posting ini sambil mendengarkan musik itu. Satu nomor paling favorit adalah “Gegendongan”; di latar belakangnya ada suara deraian angklung yang menyisip dengan manisnya di tengah harmonisasi tetabuhan itu. Bangsat, enak tenan!

Bali, khususnya jalur antara Denpasar – Singaraja, ternyata juga menyimpan potensi laknat. Bis sepanjang 9 meteran itu dipaksa turun naik melalui jalan berkelok-kelok nan curam. Tak ayal liukan-liukan itu membuat beberapa rekan dan murid jadi imut – imut (ingin mutah, ingin mutah). Ada sekali di tikungan sangat tajam bis mendadak terhenti dan badannya miring mau ngguling. Beberapa mahasiswi tengik menjerit! Untung sopir bis ini setengah Dewa: sigap, tenang, dan sangat trampil menguasai kemudi. Bis pun meluncur kembali, membawa penumpangnya yang sudah lemas terpacu adrenalinnya ke Hotel Singaraja Indah.

Tikungan tusuk konde di perbukitan Denpasar - Singaraja.

Saya cari surga itu dimana-mana, dari telapak kaki ibu, ke Widya Karya, Widya Mandala, Ubaya, ke ciuman hangat kekasih di pantai Kuta, sampai Ma Chung, ternyata ketemunya di ujung haluan kapal feri yang membawa bis kami menyeberang pulang ke Ketapang: bulan gupil di langit, dan tetaburan bintang menaungi laut yang mengalun tenang, kapal seolah menggelincir membelah riak, saya berdiri sendirian di dek kedua, kopi panas dan rokok Djarum Super di tangan, dibelai angin selat Bali, bangsaaaat, . . . ternyata surga itu ada disini!

Suksma, Bali!

Jamput tenan = ungkapan bernada kagum dan gemas,saking bagusnya yang dilihat.

Bangsat = ungkapan penyeru untuk menyatakan ledakan rasa kagum tentang sesuatu yang luar biasa menyenangkan.

Mahasiswi tengik = mahasiswi yang bercericip tak henti-hentinya kayak burung kesurupan

Mboh kamsud = tidak jelas maknanya

Bulan gupil = bulan nyaris purnama yang sudah tidak lagi bulat

Suksma = “terima kasih” dalam bahasa Bali. Dibaca “suks(e)me”.

Posted in: Uncategorized