Menempa Karakter Sang Mentee

Posted on November 21, 2009

1


by PID

Mentoring memang bukan tugas ringan. Kami diminta untuk menjadi Dewa. Sulit seorang Dewa menunjukkan kelemahan atau bahkan kecacatan karakternya manakala yang diimpikan dan diacu oleh mentee-menteenya adalah seorang figur teladan. Tapi kami hanya manusia . . .

Saya tercenung lama sekali menatap penilaian 12 Karakter untuk mentee-mentee saya. Ada dinamika disitu. Beberapa membanggakan, karena yang dulunya pemalu, pasif, cuek, sekarang sudah menjadi sedikit lebih berani, aktif, dan peduli. Tapi juga ada yang naik turun, bahkan terjun bebas. . . .

Apa yang membuat anak-anak ini menjadi lebih baik? Takut nilai jelek kah? Atau memang menyadari bagaimana harus menjadi lebih baik? Syukur alhamdullilah kalau begitu. Tapi apa pula yang membuat beberapa rekannya tampak seperti layang-layang putus: gak tahu mau kemana, sebentar ke kiri sebentar ke kanan, sebentar naik, sebentar turun, melayang-layang menunggu nasib . . . Apakah mereka jenuh? Apakah mereka memang salah setting an dari sononya?

Saya menyadari saya juga makin sibuk. “Pak Patris tidak seperhatian dulu waktu awal kuliah,” demikian tulis seorang mentee saya pada lembar evaluasi. Ya, memang, saya akui. Tapi di tengah segala kesibukan itu, saya upayakan sedapat mungkin memperhatikan dan menumbuhkan mereka. Untung Facebook belum diharamkan disini. Jadi setiap pagi saya sempatkan mengunjungi FB mereka dan memonitor kemajuan atau kondisi mood mereka. Steven, Andreas, Gideon, Barry, Bio, Grace, Pamela, Lili, Ade . . .

Saya sibuk. Kantor saya dua. Satu di Quality Assurance, satu di Pusat Bahasa. Jabatan saya rangkap-rangkap gak karuan. Mentee saya pun ada yang makin karuan ada juga yang tambah gak karuan. Saya harus mulai berpikir kreatif untuk mensiasati cara mengembangkan para mentee di tengah-tengah kesibukan ini, dan untuk itu saya harus menyambung ke “Menempa Karakter: Adakah Ruang Untuk Kreatif?” di http://patrisius.wordpress.com )

Posted in: Uncategorized