Tentang Disayang

Posted on October 22, 2009

0


oleh Patrisius

Disayang seseorang memang sangat menyenangkan. Memilikinya, dan menyadarinya, kita merasa kita ini adalah a precious someone in the eyes of that person.

Disayangi kadang-kadang terjadi tanpa disadari. Anak bungsu saya yang masih 6 tahun tidak sadar betapa mamanya sangat menyayanginya ketika memintanya untuk menghabiskan segelas susu atau menghabiskan makanannya. Dasar anak kecil, karena merasa dipaksa dan tidak suka, bawaannya marah dan ngambek melulu. Dia tidak sadar bahwa itu adalah ungkapan sayang ibu kandungnya.

Kadang-kadang saya juga begitu. Tidak sadar bahwa saya sedang disayang oleh seseorang—atau sesuatu—melalui suatu kejadian yang di mata saya yang picik sekilas merupakan kejadian yang “tidak enak”.

Disayangi seseorang berarti menikmati perhatiannya, bahkan saat saya (baca: kita) sedang sibuk berkutat dengan studi kita , atau karir kita: merancang program atau mengembangkan mata kuliah atau menulis artikel.

Disayang seseorang berarti mendapatkan penghiburan di tengah-tengah dunia yang kadang-kadang cuek ini. Di tengah-tengah keramaian, manakala tiba-tiba kita merasa kesepian, kita ingat ada seseorang yang menyayangi kita, dan perasaan itu seolah-olah mengatakan: “saya sayang kamu; sekalipun dunia luar mengabaikanmu, aku memperhatikanmu dan peduli terhadapmu, bahkan ketika kita tidak sedang berdekatan secara fisik.”

Karena merasa disayang, tanpa sadar kita jadi memperhatikan diri kita sendiri. “Sudahkah aku tampil rapi? santun? manis/enak dilihat? sudahkah perilaku saya pantas dilihat dan ditiru?”. Karena merasa disayang, kita merasa bahwa kita harus tampak berharga di mata orang yang menyayangi kita.

Disayang memang enak. Sumpah enak. Seperti ditimang-timang, dipeluk dan didekap dalam kehangatan yang melelapkan. . .

Hmmm . . .

Posted in: Uncategorized