Tentang Mentor dan Mentee-Menteenya

Posted on September 25, 2009

1


oleh: Patrisius

Agenda kontak antara saya dengan para mentee saya sebenarnya makin menipis seiring dengan berjalannya waktu. Pada tahun 2012 saya akan melepas mereka menjadi wisudawan wisudawati Univ. Ma Chung, dan sesudah itu semua yang pernah ada di antara kami akan tamat. Bukan, bukan karena kami saling membenci, tapi karena ya memang harus begitulah adanya. Manusia bertemu, saling membentuk, menajamkan, mengisi, kemudian berpisah dan masing-masing menjalani agenda hidupnya sendiri-sendiri.

Itu sebabnya saya terkesan perhatian sekali dengan para mentee saya. Waktu libur Lebaran minggu lalu, semuanya saya tanya entah lewat Facebook atau sms: “Hallo! Liburan ngapain aja nih?”. Ya, sekedar menjaga kontak saja. Dan nyatanya banyak di antara mereka yang menjawab dengan ceria, pertanda bahwa mereka merasa diperhatikan oleh mentornya sekalipun sang mentor sedang menikmati hidup bersama keluarga dan mereka sedang enjoy dengan acaranya masing-masing.

Itu sebabnya saya rajin mengamati kondisi mereka lewat berbagai sarana. Facebook tentunya sarana paling praktis, karena kalau sudah disitu, para mentee cenderung spontan, dan dari updated status yang sekilas terkesan sembarangan atau asal njeplak, saya bisa meraba kira-kira mentee saya ini lagi oke atau lagi suram.

Kenapa demikian? Ya, sekali lagi karena time is running out. Hanya 3 tahun dari sekarang, saya harus melepas mereka sebagai lulusan Universitas Ma Chung. Dan begitu saya bilang: “Selamat jalan! God bless you!” itu benar-benar saya tidak akan lagi masuk ke dalam kehidupan mereka. Mereka sudah dewasa, menjalani agenda hidupnya sendiri, sementara saya akan langsung disibukkan oleh mentee-mentee baru untuk dibina (baca: kadang juga digoda dan diajak guyon ngebodor, ho ho ho).

Begitulah. Perhatian saya bukan karena lebay atau sok kenal sok dekat, tapi karena saya sadar betul saya punya waktu tidak banyak untuk menempa dan membina mereka lewat berbagai agenda CB, interaksi yang kadang tidak terjadi setiap minggu, dialog-dialog, posting blog, diskusi, role-model dan termasuk sapaan ringan seperti di atas. Harapan saya tentunya tidak muluk: saya hanya ingin mereka lulus sebagai manusia-manusia yang sudah lebih daripada mereka di bulan Agustus 2008: lebih pandai, lebih dewasa, lebih matang dalam berpikir, lebih bisa mengendalikan emosi (marah, takut, cemas, malu tampil dsb), lebih terarah, lebih bermotivasi, lebih tahu potensi dirinya, lebih sadar tentang peranTuhan dalam hidupnya, lebih tahu bagaimana memuliakan namaNya lewat segala karya mulianya, lebih cinta bangsa dan negara . . .

Because that’s what educating and mentoring is all about . . .

Posted in: Uncategorized