Sepatu Sang Mentor

Posted on September 10, 2009

1


“Pak, jangan marah ya kalau saya kasih komentar?”

“Iya; go ahead”.

“He he he,. . . kalau bisa jangan pakai sepatu itu dong, Pak. Sangat nggak oke.”

Glekk! Rasanya seperti klelegen jaran (= tertelan kuda). Kuaget betulan saya dapat komentar seperti itu dari salah seorang mentee kemarin di sesi CB 3. Masya alaaaaahh! Kok sempat-sempatnya mencermati sepatu mentornya dan memberi komentar??

“Ha ha ha!” saya, untungnya, masih bisa tertawa walaupun dengkul rasanya sudah anjlok, “Kenapa emang? Ini kan juga bagus?” (sambil melirik sepatu saya yang memang model jadul tahun 45 itu).

“Yaa, nggak oke, Pak. Mending Bapak pake yang panjang itu, dan–”

Pembicaraan terputus karena sesi sudah mulai.

Hidup memang exciting. Serba mengejutkan. Betapapun saya kaget, saya masih berterima kasih karena komentar itu berarti bahwa mentee-mentee saya ini sangat memperhatikan mentornya, mulai dari gaya ngajarnya sampai turun ke sepatunya!

Cuma saya ya masih tertegun-tegun: kok ya sempat-sempatnya ‘menjelajahi’ mentornya. Saya aja nggak sampe segitunya lho men-scanning- mentee saya.

Nah, kali ini sepatu. Lain kali apa ya? Untung rambut saya juga udah tambah botak; kalau enggak, bisa dikritisi juga oleh mentee-mentee saya yang penuh perhatian itu . . .

Posted in: Uncategorized