Melawan Malingsia

Posted on August 29, 2009

2


Menurut kamu, apakah definisi nasionalisme itu? Apakah generasi muda kita masih perlu rasa nasionalisme?

Pertanyaan ini saya ajukan ke beberapa mahasiswa non-Curcuminoid pada suatu ajang seleksi. Mereka-mereka ini termasuk mahasiswa berkelimpahan, dan juga tergolong cerdas. Dan inilah sebagian jawaban mereka:

Si A:
“Apa masih perlu repot-repot mendefinisikan nasionalisme di jaman seperti ini? Jaman dimana kekuatan teknologi informasi dan liberalisme sudah menyatukan dunia menjadi satu kampung tunggal raksasa dimana arus modal dan budaya keluar masuk dengan lancarnya? Maaf kalau terdengar tidak enak, tapi saya kira itulah jawaban – atau lebih tepatnya: pertanyaan balik—yang bisa saya berikan.”

Si B:
“Nasionalisme itu harus mengalami redefinisi. Kalau sekian belas dekade yang yang lalu kata kuncinya adalah cinta bangsa dan negara, pada jaman ini—mengingat interaksi antar budaya sudah sedemikian cairnya dan sebenarnya segala bangsa di dunia ini sedang menghadapi anacaman tunggal berupa hancurnya lingkungan hidup—nasionalisme harus diartikan sebagai upaya menyelamatkan bumi dan segala isinya dari kepunahan”

Si C:
“Nasionalisme itu artinya setia pada aliran modal dan profit. Kemanapun modal mengalir dan dimanapun kita melihat celah keuntungan tersibak, kesanalah kita harus menuju bergegas-gegas. Maaf, tapi saya tidak mau jawaban saya klise seperti jawabannya kandidat Ma Chung King and Queen kapan hari: “nasionalisme perlu karena kita harus cinta bangsa dan tanah air ini dan bla bla bla”. Itu jawaban klise, dan setengahnya adalah hasil pendiktean dari sejak kami masih SD sampai SMA. Saya tidak mau didikte; saya punya pendapat say sendiri, dan pendapat saya ya itu: nationalisme adalah kecerdikan mengejar profit. Papa saya pialang saham kawakan, dan karena dia nasionalis seperti itu, keluarga kami jadi sangat berkelimpahan”.

Wah, wah, wah . . . saya terhenyak melihat jawaban-jawaban mereka. Benar-benar radikal, tidak dinyana. Terbayang salah satu paman saya yang tewas pada usia masih duapuluhan tahun tertembus peluru Belanda di jaman perang kemerdekaan. Terbayang keringat dan darah pejuang-pejuang Indonesia ketika mereka mempertahankan jengkal demi jengkal tanah Indonesia supaya bangsa ini merdeka dari penjajah. Terbayang veteran-veteran perang yang sudah keriput, renta, bahkan cacat. Gimana ya perasaan mereka melihat jawaban-jawaban anak muda tentang nasionalisme?

Ketiga anak muda Indonesia tadi, sementara itu, sudah lenyap. Ada yang langsung naik Mercynya geblas entah kemana; ada yang ke bandara mau liburan di Hawaii; ada yang langsung sibuk mengurus perusahaan yang dipercayakan oleh ayahnya . . .

Tengah saya termenung-menung, tahu-tahu terdengar suara gemruduk. Saya menoleh. Ternyata anak-anak itu datang kembali dan berlari-lari lewat di depan saya dengan wajah gusar. Semua pada sibuk menyiapkan parang, kelewang, uleg-uleg, ketapel, bahkan senapan mesin entah dapat dari mana. Tampang dan gerak tubuhnya benar-benar sudah seperti pasukan berani mati.

“Hey, hey, hey!” sergah saya. “Mau kemana kalian ini? Ada apa?”

“Pak, kami mau pergi perang, menyikat Malaysia. Kami tersinggung berat dikatakan bangsa terbelakang, bisanya cuma ngirim TKW. Tarian dan lagu-lagu daerah kami drampok, lagu kebangsaan kami diacak-acak. Panas hati kami, Pak. Sang Merah Putih sedang dilecehkan, kami tidak terima. Akan kami hajar sampai terberak-berak. Permisi, maaf kami tidak bisa ikut kuliah hari ini! Kami mau perang!”

Sekali lagi saya hanya bisa tertegun-tegun . . .

Posted in: Uncategorized