Mentee Komandan dan Mentee Pendiam

Posted on August 26, 2009

7


oleh Patrisius

Tambah gemuk, (sedikit) tambah cakep, tambah cekatan dan yang jelas tambah dewasa.

Itulah kesan saya terhadap para mentee Curcuminoid ketika untuk pertama kali setelah liburan panjang serasa berabad-abad saya ketemu lagi dengan mereka di Character Building 3. Kali ini temanya: hubungan manusia dengan sesama. Mereka akan diminta untuk memberikan sajian tentang nasionalisme, kemudian melakukan analisis sosial di beberapa kecamatan di wilayah Malang Raya. Yang dasarnya outgoing, people-savvy dan avonturir pasti sudah ngiler.

Seperti biasa, saya tidak mau mengambil komando dan saya lebih suka anak-anak saya ini mengatur kelompoknya sendiri. Ada kemajuan yang saya lihat: begitu saya pindah tempat duduk ke belakang, mereka langsung mengatur dirinya sendiri. Salah satu –yang nampaknya sudah didaulat oleh silent majority untuk menjadi ketua—langsung angkat bicara memberi pengarahan, meminta pendapat dan lain sebagainya. Yang lain duduk diam menyimak dan memberi masukan. Hmm, bagus, bagus . . . tidak sia-sia kami mengembangkan sikap mereka selama setahun ini.

Beberapa dari anak-anak ini nampaknya memang sudah punya karisma jadi komandan. Mereka langsung tangkas memimpin teman-temannya mencapai satu titik temu dalam diskusi. Tapi yang begini hanya satu dua. Yang lebih banyak adalah tipe diam dan pengikut.

Apakah si pemimpin akan menjadi orang yang lebih sukses daripada para pengikut di kelak kemudian hari ?

Oh, belum tentu. Pengalaman hidup sepanjang 40 tahun lebih telah membuka mata saya bahwa tipe diam dan pengikut yang seolah-olah pasif pun sebenarnya punya potensi terpendam yang akan membawa mereka pada jalan suksesnya sendiri-sendiri. Dalam dinamika kelompok seperti yang sering saya alami, tipe pendiam dan seolah pengikut ini banyak kali bisa melihat hal-hal teknis yang terlewatkan oleh sang pemimpin. Dan ketika akhirnya mereka angkat bicara, pada banyak kali isi dan nadanya bisa membuat sang komandan tertegun: “Oh, iya ya? Why havent’t we thought of that possibility/problem?” demikian mereka seolah disadarkan oleh si pendiam.

Saya pun termasuk tipe ini: lebih suka diam, tidak menggelegar penuh wibawa. Tapi seperti yang saya katakan tadi, sekalipun diam, pikiran dan perasaan saya terus bekerja. If things are going all right, I will just be quiet, but once I sense something needs to be reconsidered, I’d speak up.

Pendiam bisa dua kemungkinan: berpikir, atau apatis. Tapi semoga yang terakhir ini nggak ada di kelompok Curcuminoid.

Tiga tahun lagi saya akan melepas anak-anak muda ini mengarungi lautan luas kehidupan. Sebelum waktu itu tiba, saya ingin meyakinkan diri sendiri dan mereka semua bahwa baik pendiam maupun komandan, mereka akan menemukan jalurnya sendiri untuk meraih suksesnya masing-masing di kemudian hari.

Posted in: Uncategorized