Sang Naluri

Posted on August 9, 2009

0


by PID

75 meter menjelang apex (puncak tertinggi tikungan), rem lembut, ; masuk apex dengan setir 5 derajat ke arah kiri atau kanan (tergantung arah tikungan), dan injak gas sambil bayangkan roda depan mengikuti garis imajiner selurus mungkin, sehingga kita bisa secepat mungkin memindahkan beban lateral mobil. Semakin lurus garisnya, semakin kencang tapi lembut kita masuk ke apex. Di titik tertinggi apex kemungkinan harus rem lagi sedikit, tapi setelah itu exit tikungan akan muncul, dan begitu muncul, kita hajar lagi gas sehingga mobil melesat keluar dari tikungan.

Ini ngomong apa ya? Yah, itulah teori melibas tikungan di F1 yang saya pelajari dari Youtube dan majalah F1. Sedikit banyak juga dicoba di PC game, dan ternyata memang lebih cepat sepersekian detik dari gaya agresif : rem keras—banting setir—dan gas lagi di exit tikungan. Yang satu lebih lembut tapi menghemat ban dan rem , satunya lagi cepat tapi ban cepat aus dan rem membara.

So what?

Ya, no what what, sih. Saya hanya ingin bilang bahwa pada kenyataannya teori tetap harus dipraktekkan, dan kadang-kadang sang ahli teori justru belajar dari manusia-manusia instinktif bertalenta luar biasa tentang bagaimana menaklukkan hal sulit. Melibas tikungan di balap F1 adalah salah satunya, tapi masih banyak lagi: mendaki gunung dengan perlengkapan minim, mengajar tanpa multimedia, membangun bisnis dengan modal dengkul, membangun budaya unggul di suatu universitas, lulus kuliah dengan nilai tinggi walaupun kegiatan kemahasiswaan menggunung, dan masih banyak yang lain.

Instingtif. Naluriah. Gak kathik maca buku tapi tetap mencengangkan. Di balap F1 kita kenal Ayrton Senna, Schumacher, Lewis Hamilton, Gilles Villeneuve, di dunia bisnis ada Andre Wongso, di olah spiritual ada Gede Prama, di teater ada WS Rendra, bahkan juga Mbah Surip.

Di Ma Chung?

Belum ada, atau belum muncul. Pasti ada. Hanya belum kelihatan saja atau orang pinter bilang: “The time has not yet come”. Tapi di dunia kita yang semakin menghargai interpersonal skills dan bukan hanya sekedar IPK atau IQ, kemunculan orang-orang muda berbakat luar biasa tanpa harus jadi kutu buku pasti hanya tinggal menunggu waktu.

Posted in: Uncategorized